<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634</id><updated>2012-02-16T20:55:10.007+07:00</updated><title type='text'>RALVINZA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-6919734220837142887</id><published>2009-03-20T15:49:00.001+07:00</published><updated>2009-03-20T15:49:36.839+07:00</updated><title type='text'>PAGE 23</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ralvinza terjaga dari tidur.  Tubuhnya berkeringat hebat.  Mimpi yang barusan dialaminya berbeda dari mimpi-mimpi sebelumnya.  Seperti sebuah petunjuk sekaligus memberinya harapan baru.  Tangan Ralvinza menyentuh secarik kertas yang tergeletak di bawah bantalnya.  Setelah membaca tulisan di kertas itu dahinya berkerut.  Jadi aku belum benar-benar bertemu Endita.  Jadi itu hanya mimpi.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Endita tiba-tiba membatalkan pertemuan mereka dan berjanji akan bertemu besok hari di waktu dan tempat yang sama.  Setelah itu Ralvinza memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidur karena matanya terasa sudah begitu berat.  Dan kertas catatan itu diselipkan ke bawah bantal.  Jadi belum tentu Endita benar-benar majikan macan putih atau Satria.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza ingin teriak sekencang-kencangnya.  Semakin lama semakin sulit membedakan mana yang nyata dan bukan.  Salah langkah sedikit dia bisa melukai orang yang salah.  Dalam mimpi itu dia akhirnya tahu satu solusi melindungi dirinya dari majikan Satria.  Tapi pasti musuh besarnya juga punya tipu daya yang tak kalah hebat.  Ini yang harus diwaspadainya.  Dan dia amat takut jika majikan Satria bisa melakukan satu hal yang sangat licik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; &lt;/span&gt;Ralvinza memanggil Dewa lewat bahasa batinnya.  Dalam sekejap mata macan hitamnya muncul di hadapannya.  Ekornya bergoyang-goyang.  Kemari, Dewa.  Panggilnya dengan batin.  Macan hitam itu mendekatkan tubuhnya pada Ralvinza.  &lt;span lang="fi-FI"&gt;Dia merasakan jika hati sang majikan sedang gundah gulana bahkan saat menyentuh kepalanya perasaan itu semakin dirasakan.  Dewa tak tahu mengapa majikannya merasa tak tenang.  Padahal dia selalu siap melindungi sang majikan kapan dan dimana saja.  Tak peduli siapa yang akan dihadapi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza mencium kepala Dewa.  Aku tidak apa-apa, Dewa.  Jangan khawatir.  Apa yang kurasakan sekarang persis sama dengan apa yang dirasakan majikan macan putih.  Cepat atau lambat kami akan bertemu.  Saat itu kamu dan Satria tak bisa berbuat apa-apa.  Kamu takkan mungkin melukai majikan Satria dan begitu pula Satria takkan sanggup melukaiku.  Tinggal aku dan majikan Satria yang akan berhadapan.  Entah siapa yang akan menang.  Tapi aku tidak rela membiarkanmu jatuh ke tangan orang lain.  Sampai titik darah terakhir kamu akan kuperjuangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Rahardi menyempatkan diri berjalan-jalan mengelilingi kompleks seraya menghirup udara pagi yang segar.  Dia berpapasan dengan para tetangga yang juga melakukan aktivitas serupa.  Di usianya yang semakin lanjut Rahardi tidak lagi terobsesi mengejar mimpi-mimpi yang terlalu tinggi.  Dia menikmati hidupnya yang aman di samping putrinya.  Sebentar lagi Ralvinza akan mengikat hubungan dengan Odie.  Semoga saja Odie tidak membawanya keluar dari rumah.  Hatinya akan sangat sedih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; Dia melewati taman di tengah-tengah kompleks.  Diputuskannya untuk duduk di salah satu bangku yang kosong.  Dia menarik nafas dalam-dalam.  Jika teringat putri satu-satunya, Rahardi ingin kembali ke masa lalu ketika Ralvinza masih kecil.  &lt;/span&gt;Bocah periang dan senang memanjat pohon tetangga.  Gadis cilik bermata cerdas dan berpipi kemerahan.  &lt;span lang="fi-FI"&gt;Cantik sekali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dia selalu menyempatkan waktu menemani Ralvinza bermain di taman ini.  Putrinya yang lincah berlari ke sana ke mari.  Melompat dan tertawa renyah.  Rahardi tak pernah lepas mengawasi Ralvinza.  Menurutnya, putri kecilnya itu butuh pelindung, yatiu dirinya.  Tapi dia lama-kelamaan menyadari Dewa tanpa disuruh ikut melindungi Ralvinza.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-6919734220837142887?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/6919734220837142887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=6919734220837142887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/6919734220837142887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/6919734220837142887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/03/page-23.html' title='PAGE 23'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-3461676348067767393</id><published>2009-03-13T05:55:00.001+07:00</published><updated>2009-03-13T05:55:35.596+07:00</updated><title type='text'>PAGE 22</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ralvinza tak kuasa beranjak dari duduknya bahkan mencari pertolongan.  Orang yang kini duduk di sisinya bisa melakukan apapun untuk membungkam mulutnya.  Termasuk membunuhnya.  Percuma mencoba melarikan diri dari Endita.  Rahasianya telah terbongkar.  Perempuan itu akan selalu membayang-bayanginya tanpa kenal waktu.  Ralvinza tak mampu berpikir dengan cepat.  Otaknya membeku seperti tubuhnya.  Begitu sulit untuk bergerak.  Bahkan takut untuk bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pangeran Kinapati menyelinap keluar dari kamarnya lalu berjalan mengendap-endap.  Malam telah larut.  Noran pasti telah tertidur.  Lorong yang menghubungkan antara kamar tidur tamu kerajaan dan kamar tidur raja sama sekali tidak dijaga pengawal.  Kinapati serasa mendapat angin segar.  Ini waktu yang tepat untuk melaksanakan aksinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Dia membuka kunci pintu kamar Ralvinza dengan sebuah kawat.  Dia tak menemui kesulitan hingga masuk ke dalam kamar sang ratu.  Dia melihat Ralvinza terlelap di balik selimut tebal.  Bahunya nampak terbuka.  Pelan-pelan dia menarik selimut yang menutupi tubuh Ralvinza.  Nalurinya sebagai lelaki terpancing melihat bentuk tubuh indah yang polos tanpa apa-apa.  Bagian depan tubuh Ralvinza menantangnya.  Kinapati menciumi salah satu dari tonjolan indah lalu meraba yang lain.  Dia tidak menyadari sebuah bayangan besar berdiri di belakangnya.  Dia melepaskan baju tidurnya kemudian menaiki tubuh Ralvinza yang tak juga terjaga merasakan sentuhannya.  Kinapati mengurungkan niatnya untuk langsung menyelesaikan permainan cintanya.  Diciumnya bibir Ralvinza lalu menciumi lehernya.  Dia merasa begitu bebas untuk melakukan apa saja.  Bayangan besar di belakangnya pun bersuara pelan.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;	Kinapati mengangkat kepala.  Dia menoleh ke samping.  &lt;/span&gt;Dilihatnya bayangan macan hitam tepat di belakangnya.  Belum sempat dia menoleh ke belakang, Dewa melayangkan cakarnya ke arah punggungnya itu.  &lt;span lang="fi-FI"&gt;Akibat cakaran tersebut darah pun menyembur.  Kinapati terjatuh ke lantai dan pingsan.  &lt;/span&gt;Dia tidak sempat melihat transformasi Dewa dan Ralvinza yang bertukar tempat.  Ralvinza sudah diperingatkan oleh Dewa untuk mewaspadai Kinapati.  Untuk itulah dia memakai kesaktiannya berubah menjadi Dewa, dan Dewa menggantikan posisinya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	&lt;span lang="fi-FI"&gt;Ralvinza menyentuh luka akibat cakarannya tadi.  &lt;/span&gt;Darah yang mengalir cukup banyak.  Tadi kekuatan yang dikeluarkannya tak begitu besar.  Tapi jika seekor macan dengan bobot ratusan kilo mempergunakan kuku-kuku tajamnya tentu akan berbahaya.  Ralvinza mengusap punggung Kinapati.  Sekejap saja pendarahannya berhenti.  Ralvinza menatap Dewa yang turun dari tempat tidur lalu mengusap-usapkan kepalanya ke kaki majikannya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	&lt;span lang="fi-FI"&gt;Ralvinza kini tahu trik ini bisa membantunya menyelamatkan diri dari majikan macan putih.  Mengubah dirinya menjadi orang lain atau bahkan mengubah dirinya menjadi Dewa.  Ralvinza membangunkan Noran.  Dia menceritakan apa yang baru saja terjadi.  Noran nampak gusar.  Kinapati sudah berani berbuat tidak senonoh pada ratunya meski.  Ini sama saja melecehkan seluruh negeri.  Besok pagi Noran akan memerintahkan pengusiran Kinapati.  Laki-laki itu sama sekali tidak pantas berada negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Kinapati memang tidak menyangkal perbuatannya.  Dengan amat malu dia meninggalkan kerajaan yang dipimpin Ralvinza.  Hanya saja dalam kepalanya berkecamuk banyak hal.  Semalam rasanya banyak keganjilan dirasakannya.  Tapi dia tidak tahu apakah itu.  Niatnya untuk bisa memiliki Ralvinza pupus begitu saja.  Dia harus melupakan niat bodohnya itu.  Selagi Ralvinza masih dijaga oleh macan hitam, akan sulit sekali menyentuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-3461676348067767393?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/3461676348067767393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=3461676348067767393' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/3461676348067767393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/3461676348067767393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/03/page-22.html' title='PAGE 22'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-1877828879062305082</id><published>2009-03-06T06:11:00.001+07:00</published><updated>2009-03-06T06:11:30.916+07:00</updated><title type='text'>PAGE 21</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ralvinza bertanya pada manajer kafe yang kebetulan melintas di depannya, “Mas, saya ada janji bertemu dengan Endita Cahaya.  Boleh tahu dimana ruangannya?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Sang manajer kafe menunjukkan ruangan yang biasa dipakai Endita saat berkumpul bersama teman-temannya.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;“Terima kasih, Mas.” Ujarnya.  Perasaannya makin kacau balau.  Benarkah seharusnya dia tidak menemui anak konglomerat itu?  Benarkah keputusannya untuk mengindahkan larangan Odie?  Ralvinza menepis keraguannya jauh-jauh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza membuka pintu ruangan.  Dilihatnya Endita duduk dengan anggun.  Tatapan mereka bertemu.  Pada saat itu Ralvinza tahu Endita adalah majikan macan putih.  Tidak salah lagi.  Dia berusaha menyembunyikan ketakutannya sebisa mungkin.  Kakinya melangkah pelan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dia melihat Endita beranjak dan melangkah ke arahnya.  Jangan takut, Ralvinza.  Jangan sampai dia tahu siapa kamu sebenarnya.  Batinnya berkata.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Mereka berjabat tangan dan saling menyebut nama.  Endita mempersilahkan Ralvinza duduk.  Dia memanggil pelayan cukup dengan menekan bel yang terhubung pada meja layan.  Tidak lama kemudian seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka berdua.  Ralvinza mengeluarkan alat rekam lalu berusaha membuat tubuhnya serileks mungkin.  Bulu kuduknya tidak mau kembali seperti semula.  Jarak mereka terlalu dekat.  Tak terbayang betapa tersiksanya Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza refleks melihat ke arah pintu ketika macan putih masuk.  Dia menyesali hal itu karena Endita langsung memandangnya curiga.  “Ada apa, Ralvinza?” tanyanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kupikir ada yang datang.  Aku mendengar suara langkah kaki seseorang.” Jawabnya.  Jawaban yang justru semakin mengundang kecurigaan Endita.  Mereka berada di ruang kedap suara.  Tak bisa mendengar suara apa-apa di luar.  “Ok, bisa kita mulai?” Ralvinza mengutuk kebodohannya.  Dia menyalakan alat perekam untuk mengalihkan perhatian.  Diletakkannya alat itu di meja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita mematikan alat perekam milik Ralvinza.  Dia beranjak menuju pintu lalu menguncinya dari dalam.  Ditatapnya Ralvinza baik-baik dari ujung rambut sampai ujung kaki.  “Keluar, Satria.” Perintahnya.  Dia menunggu Satria keluar lalu tertawa sinis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Luar biasa.  Sungguh sulit kuduga ternyata orang yang ingin menjatuhkanku adalah kamu.  Ralvinza, majikan Dewa.  Aku sudah lama mencarimu.  Entah kenapa kamu begitu pengecut sampai tak berani menampakkan dirimu yang sesungguhnya.” Ujar Endita.  Dia mendekat Ralvinza dan menyentuh pipinya.  “Namamu sengaja tak ditulis sebagai pewaris Dewa supaya kamu bisa hidup tenang dan tentu bisa menghindariku.  Tapi jangan pikir aku bisa menyerah begitu saja.  Aku akan menemukanmu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza mengatur nafasnya.  Dia terjebak di ruangan ini bersama sosok yang membuatnya takut luar biasa.  Seharusnya dia tidak perlu setakut ini karena menurut cerita ayahnya dia punya kekuatan lebih besar tapi mengapa saat ini dia tak berdaya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;	&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Endita duduk di samping Ralvinza yang berkeringat dingin.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Dia menertawakan apa yang dilihatnya.  Ralvinza ternyata tak lebih dari seorang pengecut.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Tenang.  Aku takkan membunuhmu di sini.” Ujar Endita.  “Nanti ada saatnya.”  Dia beranjak dan membuka pintu yang sempat dikuncinya.  Sebentar lagi pelayan akan mengantarkan pesanan mereka berdua.  Setelah itu baru dia leluasa menyiksa Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-1877828879062305082?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/1877828879062305082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=1877828879062305082' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/1877828879062305082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/1877828879062305082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/03/page-21.html' title='PAGE 21'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-7700350704835403955</id><published>2009-02-27T09:33:00.001+07:00</published><updated>2009-02-27T09:33:21.903+07:00</updated><title type='text'>PAGE 20</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Odie putus asa.  Sulit baginya menghentikan langkah Ralvinza.  Dia kenal betul watak kerasnya.  Tak mungkin dilarang hanya karena menyangkut nama baik petinggi di Investigasi Pos.  “Baiklah.  Berjanjilah kalau kamu akan mengabariku begitu wawancara dengannya sudah selesai.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza mengangguk singkat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pangeran Kinapati membuntuti Ralvinza yang sengaja memisahkan diri dari rombongan perburuan.  Dia mengendap-endap dan menjaga jarak agar tidak sampai ketahuan.  Dia masih menganggap Ralvinza sebagai sosok yang aneh.  Mana ada seorang ratu yang berani masuk ke dalam hutan seorang diri.  Bagaimana jika nanti dia diganggu binatang buas?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pangeran Kinapati memang salah kaprah.  Dia tak tahu jika sebenarnya Ralvinza mengikuti Dewa yang kegirangan bisa masuk ke habitatnya untuk beberapa saat.  Tak ada yang perlu ditakutkan karena Dewa bersamanya.  Dan penghuni hutan pun takkan ada yang berani menyentuh kulit Ralvinza.  Dia jelas bukan orang biasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ketika semakin memasuki hutan, Dewa menampakkan wujudnya.  Dia berdiri dengan kaki belakang lalu kaki depannya berpegangan pada kedua tangan Ralvinza.  Mereka seperti beradu kekuatan padahal sebenarnya begitulah cara keduanya bercanda.  Di istana hal itu tak bisa mereka lakukan di depan siapa pun, kecuali Noran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Dewa memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang tajam.  Aumannya memperlihatkan betapa menakutkannya hewan itu dan betapa berbahayanya dia.  Orang lain bisa pingsan jika tak terbiasa dengan hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pangeran Kinapati mengamati dengan takjub.  Dia benar-benar melihat salah satu legenda yang pernah didengarnya dari tukang dongeng kerajaan.  Macan hitam yang gagah dan sehat.  Binatang terkuat dan hanya bisa dikuasai oleh keturunan ksatria berdarah biru.  Berarti Ralvinza adalah majikan yang selama ini identitasnya dirahasiakan dari siapa pun.  Ralvinza bukan sekedar ratu yang memimpin kerajaan besar ini.  Dia punya banyak kelebihan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Mengetahui hal itu, Pangeran Kinapati terpikir untuk mamanfaatkan Ralvinza untuk menobatkan dirinya sebagai penguasa tunggal.  Alangkah hebatnya jika dia bisa menguasai seluruh kerajaan di jagad raya.  Kuncinya cukup satu.  Memiliki Ralvinza.  Membuatnya tergila-gila kepadanya.  Itu bukan hal sulit.  Dia adalah pangeran yang tak pernah kesulitan menaklukkan hati wanita.  Pangeran Kinapati tersenyum jahat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita datang lebih dulu di Total Art.  Endita memesan ruangan private.  Ini akan menjadi pertemuan pribadi yang takkan didengar orang lain apa yang mereka bicarakan.  Dia tidak tahu pertanyaan seperti apa yang akan ditanyakan wartawan itu padanya.  Tak ada persiapan yang dilakukannya untuk membela diri.  Ralvinza pastilah sama dengan wartawan lain yang hanya mengandalkan insting tapi tak punya nyali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza memarkirkan mobil depan kafe.  Mulai dari sana bulu kuduknya kembali merinding.  Majikan macan putih di sini!  Semoga nanti tidak bertemu dengannya.  Sungguh ini sangat mengganggu.  Saat masuk ke dalam kafe perasaan itu semakin kuat.  Langkahnya tiba-tiba berat.  Di antara pengunjung kafe dia melihat macan putih.  Saat dia menoleh ke belakang Dewa berjalan di belakangnya.  Ada apa ini?  Mengapa macan putih ada di sini?  Untuk apa pula Dewa mengikutinya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-7700350704835403955?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/7700350704835403955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=7700350704835403955' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7700350704835403955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7700350704835403955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/02/page-20.html' title='PAGE 20'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-4691548615523424274</id><published>2009-02-20T10:30:00.000+07:00</published><updated>2009-02-20T10:31:10.924+07:00</updated><title type='text'>PAGE 19</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sang dokter tersenyum.  “Ada serpihan kecil yang tertinggal, Dita.  Itu yang menyebabkan lukamu tidak membaik.  Jika tidak diambil tanganmu harus diamputasi.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Endita memelototi dokter Wawan dengan galak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Saya tidak bercanda.  Hanya serpihan kecil saja tapi jangan dianggap enteng.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Endita akhirnya pasrah.  Dia mengeluarkan saputangan dari tas lalu menggigitnya.  Mukanya dipalingkan sejauh mungkin saat pinset menyentuh kulit.  Dia menatap Satria yang tak bisa menolong apa-apa.  Semenit kemudian dia merasakan sebuah benda tercabut dari kulitnya.  Dia tak merasa sakit justru bernafas lega.  Rupanya memang benda itu yang membuatnya beberapa hari tak nyaman.  Operasi kecil yang dilakukan salah satu temannya untuk mengeluarkan peluru ternyata tidak sempurna.  Untung akibat fatal belum sempat menderanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dokter Wawan membersihkan luka lalu kembali memasang perban di lengan Endita.  Dia beranjak ke kursi kerjanya.  Endita menyusul sambil mengenakan jaketnya kembali.  Dia menunggu dokter Wawan selesai menuliskan resep.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Lain kali segeralah kemari jika butuh pertolongan, Dita.  Tidak perlu takut rahasiamu terbongkar.  Saya teman baik ayahmu.  Saya tidak akan membiarkan ayahmu kecewa karena tindak kriminalmu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Endita terperanjat.  Ucapan dokter Wawan bukan sekedar kalimat tanpa makna.  Pandangannya tertuju pada koran Investigasi Pos yang tergeletak di atas meja.  Dia paham sekarang.  Bukan hanya dokter Wawan, semua orang mulai mencurigainya gara-gara artikel di koran.  Dia berang sekali tapi di hadapan orang sikapnya tetap datar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Seingatnya artikel itu ditulis seorang wartawan yang sudah membuat janji bertemu dengannya malam ini.  Ini kesempatan untuk menekan wartawan itu supaya meralat beritanya.  Bukan berita seperti itu yang harusnya ditulis para wartawan hingga membuat publik beropini negatif tentangnya.  Yang dia mau publik mengasihaninya karena manjadi korban berkali-kali dan tak ada sangkut-pautnya dengan pelaku kejahatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Terima kasih, dok.” Ucap Endita seraya menerima resep dari dokter Wawan.  Dia meninggalkan ruang praktek dokter itu dengan perasaan dongkol.  Ralvinza akan dibuatnya menyesal dengan berita sok tahunya itu.  Dia akan menekan wartawan itu sampai keadaannya berbalik sesuai keinginannya.  Tunggu saja, Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Odie berusaha mengejar Ralvinza yang hampir mencapai tempat parkir.  Pria itu nampak berantakan setelah seharian mengurung diri di ruang kerjanya.  Makan siang bersama Ralvinza terlupakan begitu saja.  Dicekalnya lengan sang kekasih kuat-kuat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Mau kemana, sih?” tanya Odie dengan nafas tersengal-sengal.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Aku ada wawancara dengan Endita Cahaya.” Jawab Ralvinza seraya menepiskan tangan Odie.  Cukup dengan satu kali gerakan saja dia berhasil membebaskan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Aku sudah bilang jangan membuat berita apa-apa lagi soal Endita.  Aku tidak mau mendapat teguran Pak Ganesh lagi, Vin!” bentak Odie.  Dia menarik nafas dalam-dalam dan menyesali sikapnya barusan.  “Maaf, tolong batalkan janjimu dengan Endita.  Masih banyak berita lain yang bisa kamu liput.  Jangan usik Endita.  Dia orang penting.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza melihat Dewa berkelebat di belakang Odie lalu pandangannya kembali pada calon suaminya itu.  Dia menyusun kalimatnya dengan baik, “Ini hanya wawancara biasa.  Aku janji tidak akan menyudutkan Endita.  Aku tidak bisa membatalkan janji dengannya.  Tidak mudah menemuinya.  Sekali dapat kesempatan takkan kulewatkan begitu saja.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-4691548615523424274?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/4691548615523424274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=4691548615523424274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/4691548615523424274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/4691548615523424274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/02/page-19.html' title='PAGE 19'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-5961678234894241840</id><published>2009-02-14T10:27:00.000+07:00</published><updated>2009-02-14T10:28:20.245+07:00</updated><title type='text'>PAGE 18</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pintu dibuka bersamaan oleh dua pengawal.  Ralvinza berjalan seorang diri tanpa kawalan apa-apa.  Itu membuat Pangeran Kinapati tidak menyadari bahwa orang yang ingin ditemuinya telah ada di hadapan.  Dia duduk di kursi utama yang bentuknya sama dengan kursi-kursi lain.  Para menteri serentak membungkukkan badan.  Sang pangeran hanya melongo dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ratu Ralvinza berbeda dari ratu-ratu lain yang pernah ditemuinya.  Tidak menampakkan jika dia memiliki status jauh lebih tinggi dari para menteri.  Di kepalanya tidak ada mahkota seperti biasa dikenakan para pemimpin kerajaan.  Ditambah lagi dengan tidak adanya pengawal yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Meja jamuan kini telah lengkap terisi.  Noran duduk paling dekat dengan sang ratu.  Di bawah meja dia tahu macan hitam duduk dekat kakinya.  Ralvinza memberi sedikit pidato penyambutan selamat datang pada Pangeran Kinapati dan rombongannya.  Tak begitu formal.  Padahal sang pangeran ingin diperlakukan jauh lebih istimewa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Acara makan malam bersama pun dimulai.  Ralvinza berbisik pada Noran, “Besok aku mau pergi berburu.” Dia menambah kuah sup ke dalam mangkuknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Bersama Dewa?” tanya Noran tak kalah berbisik seraya mencondongkan tubuhnya.  Di hadapannya duduk Menteri Pertahanan.  Di sebelah kanannya ada Kepala Pengawal Khusus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Dewa?  Siapa Dewa?” tanya Ralvinza seraya menambahkan garam ke dalam kuah sup.  Dia melirik sekilas ke arah Pangeran Kinapati yang menatapnya tanpa berkedip.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Macan hitam, Yang Mulia.” Jawab si penasehat.  “Lebih baik macan hitam punya nama.” Usulnya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza setuju saja dengan nama itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Pangeran itu diajak, Yang Mulia?” tanya Noran ingin tahu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Terserah dia mau ikut atau tidak.  Sepertinya kamu kurang menyukainya.” Tebak Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran tidak menyangkal.  Dia berharap bukan laki-laki itu yang berhasil menikahi sang ratu.  Sikapnya sama sekali bertolak belakang dan sangat angkuh.  Pangeran Kinapati pasti akan jadi raja yang amat menyebalkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Sudah lama Dewa tak masuk hutan.  Dia nampak kurang bersemangat.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran sependapat.  Dewa memang perlu lebih sering masuk hutan merayakan kebebasan sesaat sebelum masuk kembali ke area istana.  “Saya akan siapkan segalanya malam ini, Yang Mulia.  Besok pagi-pagi kita berangkat.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Dokter Wawan membuka perban yang menutupi luka Endita.  Sedikit darah mengalir dan menetes ke lantai.  Cepat-cepat dicelupkannya kapas lalu diletakkan pada luka itu.  Endita mengerang panjang menahan sakit.  Luar biasa sakitnya meskipun itu bukan luka baru.  Satria iba melihat majikannya kesakitan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kenapa tidak langsung dibawa kemari, Dita?  Kalau infeksi bisa fatal akibatnya.” Ujar dokter Wawan.  Dia membersihkan luka lalu membuang kapas ke mangkuk kecil.  Hanya dalam sekejap kapas berubah warna jadi merah.  dia mengambil kapas baru lalu melakukan hal yang sama untuk kedua kali.  Endita menahan nafas seraya menggigit bibir.  Ia ingin berteriak tapi takut Beno yang menunggu di luar mendengar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Dokter Wawan memperhatikan lubang yang menganga lebih dekat seraya menyenteri.  Dia mengambil pinset.  Endita menarik tangannya dengan panik.  “Jangan, Dok.  Sudah cukup.  Jangan sentuh.  Tolong.” Pintanya ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-5961678234894241840?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/5961678234894241840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=5961678234894241840' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/5961678234894241840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/5961678234894241840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/02/page-18.html' title='PAGE 18'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-4059149080582622522</id><published>2009-02-06T06:18:00.000+07:00</published><updated>2009-02-06T06:19:09.529+07:00</updated><title type='text'>PAGE 17</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Odie mengangguk.  Dia bertanggungjawab atas berita yang diturunkan.  Bukan Ralvinza yang akan dikenai semburan kemarahan atasannya, tapi dia.  Berita apapun itu.  Odie tak mau memperlihatkan pembelaan berlebihan pada kekasihnya karena dia percaya Ralvinza pasti tidak sekedar mengada-ada.  Ralvinza bukan wartawan kelas bawah seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Saya mengerti, Pak.”	&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ganesh pun mereda.  Dia memang berlebihan menanggapi berita hari ini.  Padahal Endita saja tidak bereaksi dan menyatakan keberatan ditempatkan pada posisi yang salah.  Ganesh ingin menyatakan permintaan maaf secara pribadi pada sahabatnya itu.  Jika tidak, Endita yang meminjamkan piutang padanya untuk menghindari gejala pailit bisa saja berbalik menjatuhkannya sampai tak berdaya apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Di mata Ganesh, Endita adalah tiang penyangga karirnya yang telah dibangun dengan susah payah.  Dia berhasil menarik simpati gadis muda itu setelah bertahun-tahun berusaha mendapatkan simpati dari ayah Endita tapi selalu gagal.  Kucuran dana berhasil dia dapatkan dan membuatnya terlepas dari ancaman kehancuran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Sampaikan pada Ralvinza untuk mencari berita lain yang tidak berhubungan dengan Endita.  Mengerti?  Kamu pasti tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini padanya, kan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie mengangguk.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pangeran Kinapati yang menunggu di ruang perjamuan nampak agak gelisah.  Bukan karena rasa lapar yang dirasakannya sejak tadi.  Dia tidak sabar menunggu Ralvinza yang sering dibicarakan rakyat di negerinya hingga mendorongnya menempuh perjalanan begitu jauh demi melihat wajah sang penguasa negeri yang sangat dekat dengan rakyatnya.	&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Kedatangannya disambut oleh Noran dengan amat baik.  Sayangnya sosok Ralvinza belum muncul-muncul juga.  Menurut Noran, sang ratu sedang memberi makan macan hitamnya.  Pangeran Kinapati menertawakan hal itu.  Mana mungkin seorang penguasa negeri  lebih mementingkan peliharaan ketimbang menyambut tamu, bukan sekedar tamu tapi calon suami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran sepertinya dapat membaca isi pikirannya.  “Macan hitam Yang Mulia sangat dimanjakan.  Makanannya pun bukan daging.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pangeran Kinapati mengerutkan dahi.  “Lalu apa?  Nasi?” ejeknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Arwah rusa jantan.” Jawab Noran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pangeran Kinapati tertawa.  Lelucon Noran benar-benar manjur menggelitiknya.  Dia meragukan jika Noran benar-benar seorang penasehat.  Pasti dia sebenarnya pelawak kerajaan yang sedang menyamar, pikirnya begitu.  Negeri yang aneh.  Dari kejauhan saja dia bisa merasakan sesuatu yang aneh tapi sulit dijelaskan dengan  kata-kata.  Bukan hanya dia, kuda-kuda yang menarik keretanya pun tiba-tiba meringkik gelisah saat memasuki perbatasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Bisa tolong supaya macan itu lebih cepat makannya?  Lama sekali.” Keluhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran punya kesabaran lebih menghadapi tamu yang menjengkelkan seperti Pangeran Kinapati.  Dia telah menghina Ralvinza dan juga macan hitam.  Sama sekali tidak tahu adat.  Belum lagi pangeran itu seolah menganggap kerajaan ini tak lain adalah kerajaan miskin.  Tidak sekaya kerajaan yang dipimpin ayahnya yang serba berlapis emas.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran melihat macan hitam masuk menembus tembok.  Sebentar lagi Ralvinza datang.  Semoga saja sikap pangeran congkak ini berubah begitu melihat ratunya.  Dia memberi isyarat pada para pelayan untuk bersiap menyambut Yang Mulia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-4059149080582622522?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/4059149080582622522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=4059149080582622522' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/4059149080582622522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/4059149080582622522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/02/page-17.html' title='PAGE 17'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-2129002162027451631</id><published>2009-01-30T06:32:00.001+07:00</published><updated>2009-01-30T06:32:53.147+07:00</updated><title type='text'>PAGE 16</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;“&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wawancara eksklusif?” Endita menyuapkan nasi goreng ke mulutnya seraya berpikir.  “Boleh saja.”  Jawabnya santai.  Dia jarang menolak wawancara seperti itu.  Semakin banyak wartawan yang datang dan bertanya soal perusahaannya yang keseringan jadi korban perampokan akan semakin baik.  Mereka sangat membantu untuk mengundang simpati masyarakat yang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kalau dia menelfon lagi, bilang saja untuk langsung menghubungi HP-ku.” Ujar Endita.  Setelah itu dia lebih banyak diam seraya menikmati sarapan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Satria masuk ke dapur dan duduk di dekat kakinya.  Endita menghela nafas.  Luka di tangannya kembali terasa sakit.  Dia tidak tahu mengapa setiap terjaga dari tidur dia mendapati luka itu kembali mengeluarkan darah.  	Endita menatap Beno yang menunggunya menghabiskan sarapan.  “Ben, nanti sore tolong antar saya ke dokter Wawan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Beno mengangguk.  Cepat atau lambat Endita pasti mencemaskan darah yang terus keluar banyak seperti itu.  Dokter Wawan adalah dokter langganan keluarga Endita.  Dia membuka praktek sampai pukul 4 sore.  Setelah itu dia pulang ke rumah dan melayani pasien sampai pukul sepuluh.  Endita lebih suka menemui sang dokter di rumah.  Akan lebih nyaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie terlihat berjalan tergesa menuju ruang pemimpin redaksi.  Tanpa menghiraukan rasa pening di kepala dia tak ingin membiarkan atasannya menunggu lama.  Entah untuk apa dia dipanggil kali ini.  Biasanya ada alasan yang cukup pelik menjadi latar belakangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ganesh Pamungkas mempersilahkan Odie masuk ke dalam ruangannya.  Pria setengah baya tersebut terlihat tengah membaca koran hari ini.  Beberapa surat kabar menumpuk di atas mejanya.  Harian Investigasi Pos yang menampilkan foto Endita Cahaya pada halaman depan dibawa serta oleh Ganesh saat menyusul Odie yang lebih dulu duduk di sofa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ini,” Ganesh membuka pembicaraan.  “Aku tidak mengerti mengapa foto Endita yang dipilih untuk di pasang pada halaman depan.  Semua koran melakukan hal yang sama.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie membasahi bibirnya sebelum memberi jawaban.  “Bukan rahasia lagi jika Endita dicurigai terlibat dalam perampokan ini, Pak.  Kita memang tahu bahwa perampokan itu selalu mengincar perusahaan miliknya.  Hampir selalu.  Bisa dikatakan 70 persen kasus berhubungan dengan dia.  Kepolisian memang belum bergerak untuk menyelidiki hal ini, tapi pasti akan ada tindakan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ganesh bertopang dagu seraya nampak berpikir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Endita salah satu teman baik saya, Odie.  Dia mengatakan secara pribadi kepada saya bahwa dia sangat dirugikan.  Sebagai wujud kekesalannya, dia menyalahkan pihak kepolisian yang belum juga berhasil menangkap pelaku kejahatan yang seolah-olah mengincarnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie tidak meragukan ucapan atasannya, tetapi berita ini pun akhirnya diturunkan oleh Ralvinza.  Kekasihnya itu tentu punya dasar menulis investigasi yang cukup memojokkan Endita dan tertulis dengan font tebal dan besar pada halaman depan.  Endita Diduga Terlibat.  Itu judul artikel yang ditulis Ralvinza.  Secara terang-terangan dia mengungkapkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ralvin belum punya bukti, Odie.  Nama besar koran kita dipertaruhkan, dan hubungan baikku dengan Endita terancam renggang.  Kita bukan tabloid gosip yang hanya bisa membuat suasana jadi lebih panas.” Ganesh seperti meradang sendiri.  “Aku tidak peduli jika koran-koran lain latah menuding Endita terlibat.  Terserah saja.  Tapi hal itu tidak boleh dilakukan oleh Investigasi Pos sebelum ada petunjuk yang pasti.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-2129002162027451631?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/2129002162027451631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=2129002162027451631' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/2129002162027451631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/2129002162027451631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/01/page-16.html' title='PAGE 16'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-3633754477701672751</id><published>2009-01-23T06:03:00.001+07:00</published><updated>2009-01-23T06:03:57.092+07:00</updated><title type='text'>PAGE 15</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua orang tua Endita pengusaha sukses dan baik hati.  Mereka meletakkan kepercayaan begitu besar padanya sampai saat ini.  Ketika kedua orang tua Endita memutuskan pindah keluar negeri, Beno ditugaskan menjaga Endita yang memilih tinggal di tanah kelahirannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Beno menyiapkan menu sarapan untuk Endita.  Biasanya nasi goreng daging menjadi santapan setiap pagi tuannya itu.  Masakannya memang enak.  Dia tahu benar selera Endita yang tak suka masakan terlalu pedas dan berminyak.  Dia juga menyiapkan buah-buahan di atas meja makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Tadi pagi ketika dia mengambil mengosongkan tempat sampah di depan kamar majikannya, Beno terkejut melihat banyak tisu yang bernoda merah seperti darah.  Isi tong sampah sebagian besar tisu dan sisanya sampah kertas.  Dia tak tahu apakah luka seperti apa yang diderita Endita hingga darahnya tak berhenti keluar.  Dia bahkan tidak tahu jika tuannya itu terluka.  Endita terlihat baik-baik saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Beno bukan kali itu saja sering dibuat heran berkepanjangan.  Lagi-lagi tuannya dicari-cari wartawan untuk meminta klarifikasi soal perampokan bank yang terjadi.  Di koran memang tertulis salah satu perusahaan yang dimiliki Endita kembali mengalami kerugian karena kehilangan uang sebesar 200 juta rupiah dari peristiwa perampokan.  Beno mengikuti perkembangan berita dari koran maupun televisi.  Sekali pernah Endita muncul di televisi dan mengakui bahwa pegawainya yang menjadi korban perampokan kini dirawat di rumah sakit.  Sementara itu soal uang yang ikut disikat kawanan perampok tidak dikomentari Endita secara serius.  Beno menyimpulkan pasti tuannya tak mau memperpanjang masalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Perusahaan Endita yang lain juga pernah mengalami nasib yang sama.  Menjadi target perampokan.  Sungguh menyedihkan.  Tapi Endita selalu memperlihatkan wajah yang tetap santai.  Bahkan tak tampak memendam amarah.  Beno yakin bukan hanya dirinya yang bertanya-tanya dengan sikap tenang Endita.  Para pemburu berita ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Sosok Endita yang dikenal Beno adalah perempuan yang selalu menjaga jarak dengan orang-orang tak selevel dengannya.  Teman-teman berkumpulnya hanya ada sembilan orang.  Dengan merekalah Endita menghabiskan waktu untuk memuaskan hasrat sosial.  Jika beno bukan orang lama dalam rumah itu jangan harap Endita akan berbicara padanya.  Sosok itu menyimpan banyak misteri dan rahasia.  Dia belum pernah melihat Endita bersikap buruk pada orang lain tetapi Beno bisa merasakan ada aura negatif yang menaungi tuannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Beno menyetel musik jazz di dapur.  Tuannya sangat suka jika di saat sarapan ditemani dengan alunan musik itu.  Dia akan menghabiskan makanannya tanpa terburu-buru.  Nasi goreng sudah siap di meja.  Saat membuatnya tadi, aromanya pasti tercium oleh Endita.  Sebentar lagi gadis itu akan masuk ke dapur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita memang tak lama kemudian masuk ke dapur dengan mengenakan celana pendek dan jaket kaus yang menutupi kedua lengannya.  Beno berusaha menebak-nebak di bagian tubuh mana yang terluka sebenarnya.  Di kakinya tak ada luka.  Mungkin di punggung atau dada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ben, semalam ada yang mencariku?” tanya Endita sambil menarik kursi untuk dirinya sendiri.  Dia memegang sendok dan garpu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ada, Non.  Katanya wartawan dari harian Investigasi Pos.  Dia mau meminta wawancara secara eksklusif.” Tutur Beno yang berdiri di dekat meja makan.  “Namanya Ralvinza Dewi, Non.” Tambahnya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-3633754477701672751?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/3633754477701672751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=3633754477701672751' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/3633754477701672751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/3633754477701672751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/01/page-15.html' title='PAGE 15'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-573932417026536887</id><published>2009-01-16T07:08:00.001+07:00</published><updated>2009-01-16T07:08:59.718+07:00</updated><title type='text'>PAGE 14</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;“&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aaaaa!” jeritnya dengan nyaring.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Sontak yang lain terkejut.  Mereka melihat Odie menuruni tangga lalu berlari ke arah mereka dengan muka pucat.  Dia duduk di sebelah ayahnya dengan nafas tersegal-segal.  Ralvinza melirik ayahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ada apa, Di?” tanya sang ibu ikut-ikutan panik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ma..macan, Ma.  Di kamar Ralvin.” Jawabnya tergagap.  Tangannya terasa dingin dalam genggaman sang ayah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menelan ludah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Macan apa?  Mana ada macan.  Kamu ini.” Sang ayah justru menyalahkan Odie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Odie sudah dua kali lihat macan, Pa.  Yang pertama putih, lalu tadi hitam.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Kedua orangtua Odie hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.  Mereka tak merasa perlu menanggapi dengan serius.  Ralvinza mengerling ayahnya yang nampak renta namun tahu ada sesuatu yang perlu mereka bicarakan empat mata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Suasana rumah hening.  Petugas katering sudah membereskan semua hidangan.  Tinggal mereka berdua di rumah.  Ralvinza duduk di hadapan Rahardi.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Hati-hati jangan sampai ini terulang lagi, Nak.” Nasehat Rahardi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kenapa Odie bisa melihatnya, Pa?  Selama ini kita tak perlu cemas orang akan tahu siapa kita.  Kita juga bisa hidup tenang karena majikan macan putih takkan bisa mengenaliku.  Lalu keadaan sekarang tak kumengerti.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Rahardi meneguk teh manis yang sudah dingin.  “Sebagai peringatan, Nak.  Macan hitam merasa terancam dengan apapun yang ada dalam kepala Odie.  Dia jauh lebih sensitif daripada kamu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza bisa langsung paham.  “Tapi apa urusan macan putih, Pa?  Kenapa dia juga menampakkan wujudnya pada Odie?  Ini sama sekali bukan urusannya.  Dia punya kewajiban menjaga majikannya sendiri.” Ujarnya agak kesal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Suasana menjadi beku.  Rahardi mencoba untuk menjabarkan di dalam hati.  Benar sekali jika macan putih sama sekali hanya perlu melindungi majikannya sendiri.  Selama dia menjadi majikan, macan putih sama sekali tak pernah menampakkan diri di hadapannya.  Hingga dia pernah berpikir bahwa macan putih hanyalah isapan jempol semata.  Tapi begitu dia mewariskan macan putih pada putrinya, kedua macan itu seolah menjadi akrab.  Berkeliaran sesuka hati dan Rahardi melihatnya dengan sangat heran.  Apakah ini pertanda bahaya atau bukan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Nak, Papi minta supaya kamu lebih waspada.  Firasat Papa mengatakan kamu terancam sesuatu yang berbahaya.  Jangan pernah remehkan majikan macan putih.  Meski kamu lebih kuat, bukan berarti dia tak bisa mengalahkanmu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza mengangguk.  Sebelum diperingatkan sang ayah dia sudah lebih dulu bersiaga.  Sejak dia bermimpi aneh menjadi sebuah petunjuk tak langsung bahwa sebuah kekuatan jahat mengincar nyawanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Beno membuka jendela seisi rumah ketika matahari sudah cukup tinggi.  Pagi ini agak berangin.  Gorden langsung bergoyang pelan dan mempersilahkan angin masuk ke dalam rumah besar milik keluarga Endita.  Tuannya baru pulang pukul 2 pagi.  Beno yang membukakan pintu untuk Endita yang menyetir dengan keadaan mabuk.  Aroma alhokol tercium menyengat.  Itu sudah biasa.  Endita memang hidup sesuka hatinya.  Beno tak mau mengusik kesenangan tuannya.  Sudah tiga puluh tahun dia bekerja pada keluarga ini semenjak Endita belum lahir.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-573932417026536887?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/573932417026536887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=573932417026536887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/573932417026536887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/573932417026536887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/01/page-14.html' title='PAGE 14'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-2451110956240202985</id><published>2009-01-09T05:56:00.001+07:00</published><updated>2009-01-09T05:56:42.576+07:00</updated><title type='text'>PAGE 13</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan hati-hati Noran menjawab, “Majikan macan putih selalu ingin menyingkirkan majikan macan hitam.  Itu pasti terjadi.  Berkali-kali terjadi dan saya bersumpah hal itu membuat majikan macan hitam terdahulu berusaha menutupi identitas demi keselamatan diri mereka.  Menjadi majikan macan hitam adalah takdir, Yang Mulia.  Tidak bisa ditolak.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza tak dibuat percaya begitu saja.  Sejahat itukah majikan macan putih?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Majikan macan putih tidak akan ragu-ragu membunuh, Yang Mulia.  Di hati mereka yang ada hanyalah nafsu untuk menjadi majikan macan putih dan macan hitam sekaligus.  Dengan merubah takdir mereka berharap bisa menjadi satu-satunya penguasa jagad raya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Bagaimana aku bisa waspada jika sampai sekarang aku tidak tahu yang mana musuhku.  Beri tahu aku siapa majikan macan putih, Noran.  Aku ingin memastikan dia tak mengenaliku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran menggeleng. “Yang Mulia punya kelebihan luar biasa dan bukan warisan turun-temurun.  Yang Mulia akan mendapatkan tanda jika majikan macan putih ada di dekat Yang Mulia.  Berhati-hatilah kapan dan dimana saja, Yang Mulia.  Majikan macan putih sangat licik dan selalu memakai berbagai cara.” Noran terdiam sejenak.  “Sebaiknya Yang Mulia tidak terus-terusan dicemaskan oleh hal itu.  Jangan sampai Pangeran Kinapati merasa tak disambut sepenuh hati oleh Yang Mulia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Hari untuk lamaran akhirnya tiba.  Odie beserta kedua orang tuanya datang ke rumah Ralvinza untuk menemui Rahardi, ayah Ralvinza.  Odie mengenakan batik seperti juga ayahnya.  Dia nampak tegang bercampur senang.  Setelah acara lamaran maka tinggal selangkah lagi menuju pelaminan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza memesan hidangan makan malam dari sebuah katering terpercaya.  Setelah acara makan malam barulah prosesi lamaran dimulai.  Ralvinza ingin segalanya berjalan dengan baik.  Antara dirinya di dalam mimpi dan di dalam kehidupan asli sama-sama menghadapi suasana menjelang pernikahan.  Tapi pikirannya sulit sekali difokuskan.  Separuh pikirannya terdominasi pada kehidupan rahasianya.  Andai Noran bisa menyebutkan satu nama saja maka dia tak perlu dipusingkan lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza merasa didoktrin oleh Noran.  Dia yakin bisa melindungi dirinya sendiri dari niat jahat majikan macan putih.  Noran mengatakan dalam dirinya ada kekuatan tersembunyi lalu mengapa harus merasa seperti orang lemah yang selalu menghindar?  Bukankah justru ini semakin memperdalam rasa ingin tahunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menatap ayah Odie yang sedang menyampaikan lamaran.  Sebentar lagi dia akan menikah.  Seharusnya dia berbahagia seperti perempuan lain.  bukan justru memikirkan orang lain.  Entah laki-laki atau perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie beranjak menuju kamar mandi.  Acara lamaran telah selesai.  Pihak orangtua sedang berbincang-bincang tentang rancana berikutnya.  Ralvinza ada di sana tapi jarang berbicara.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie melewati kamar tidur Ralvinza yang agak terbuka.  Kamar mandi terletak di ujung sana tapi langkahnya berhenti di depan kamar.  Dia ingin melihat kamar kekasihnya seperti apa.  Mungkin bisa menjadi inspirasinya saat mendekorasi kamar pengantin.  Dia mendorong pintu pelan-pelan.  Lampu yang terang benderang memperlihatkan seisi kamar yang besar dan nampak biasa-biasa saja.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Pandangannya mengedar lalu berhenti di atas tempat tidur.  Nafasnya tertahan di tenggorokan.  Dia melihat seekor macan sedang menjilati kaki depannya dengan santai.  Kepalanya terangkat ketika tanpa sengaja Odie terbatuk saking susahnya bernafas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-2451110956240202985?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/2451110956240202985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=2451110956240202985' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/2451110956240202985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/2451110956240202985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/01/page-13.html' title='PAGE 13'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-8172528933842678791</id><published>2009-01-02T07:27:00.001+07:00</published><updated>2009-01-02T07:27:47.523+07:00</updated><title type='text'>PAGE 12</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Noran mengangguk.  “Lalu apakah pesta pernikahan juga dipersiapkan sekarang?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza terdiam.  Dalam situasi ini pernikahan sama sekali belum menjadi prioritas.  Rakyat memang menunggu sebuah pesta pernikahan yang akan tercatat dalam sejarah.  Ketika sosok pendamping pun akhirnya duduk di sebelah penguasa mereka yang arif.       &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Siapkan saja jamuan selamat datang terlebih dahulu, Noran.” Jawab Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran mengangguk.  Dia membungkukkan badan sebelum meninggalkan Ralvinza yang meneruskan latihan rutinnya bersama para pengawal.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Persiapan penyambutan yang dilakukan pihak kerajaan  tidak main-main.  Semua orang sibuk mengubah kerajaan yang tampak sederhana menjadi agak mewah dengan dekorasi-dekorasi bernuansa emas.  Para pengawal diberikan seragam baru yang khusus dipergunakan selama tujuh hari penuh.  Para koki tidak mau kalah menyiapkan berbagai hidangan yang menebarkan aroma begitu kuat.  Ini yang membuat rakyat tahu pasti ada tamu kerajaan yang akan datang.  Mereka dengan spontan membersihkan jalan di depan rumah mereka dari dedaunan yang berguguran.  Sebagian datang ke istana dan bertanya apakah bantuan mereka diperlukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menemui Noran yang mengawasi kesibukan orang-orang yang berada di halaman depan istana.  Dia baru selesai mandi dan masih mempergunakan busana sehari-hari.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Yang Mulia.” Noran membungkukkan badan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Jam berapa mereka tiba?” tanya Ralvinza seraya mengedarkan pandangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Sore nanti, Yang Mulia.  Apakah baju yang dipersiapkan kurang berkenan, Yang Mulia?  Saya akan menggantinya dengan yang lain jika itu tidak bagus.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menggeleng.  Dia sudah melihat baju yang dimaksud Noran.  Justru terlalu mewah.  Pangeran Kinapati hanyalah salah satu dari tamu kerajaan yang datang berkunjung.  Seharusnya penyambutannya juga sama denga tamu-tamu lain.  Tapi Ralvinza tidak mempermasalahkan.  Dia tahu asal usul Pangeran Kinapati  adalah kerajaan yang sangat kaya dengan materi.  Upeti yang diberlakukan kerajaan sangatlah besar dan membuat gaya hidup keluarga istana berlebihan.  Berbeda dengan Ralvinza.  Dia tak pernah memperkenalkan istilah upeti pada rakyatnya.  Rakyatlah yang memberi sebagian penghasilan kepada kerajaan lewat sebuah lembaga khusus untuk disimpan agar lebih aman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Noran, semalam aku melihat macan putih datang ke kamarku.” Ungkap Ralvinza.  Macan itu duduk bersebelahan dengan macan hitam dan sangat akrab.  Satu yang menjadi pertanyaanku.  Apakah majikan macan putih dan macan hitam pernah sangat dekat?  Atau menikah mungkin?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran memegang dagunya yang terbelah.  Pandangannya menerawang.  Dia dipilih menjadi penasehat kerajaan karena pengetahuannya yang sangat luas dan dia hafal sejarah keluarga kerajaan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Tidak, Yang Mulia.  Itu tidak pernah terjadi.” Jawab Noran kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza memiringkan kepala.  Aneh sekali, pikirnya.  Kedua macan itu nampak akrab lalu mengapa majikannya tidak?  “Kenapa, Noran?  Apa ada masalah?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran menarik nafas dalam-dalam.  Kepalanya terangguk.  “Benar, Yang Mulia.  Ada sebuah masalah besar dan memang sebaiknya majikan macam hitam dan macan putih tidak bertemu sama sekali.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza dibuat penasaran.  “Tapi kenapa?” desaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-8172528933842678791?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/8172528933842678791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=8172528933842678791' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/8172528933842678791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/8172528933842678791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2009/01/page-12.html' title='PAGE 12'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-8365384996277467483</id><published>2008-12-30T05:12:00.001+07:00</published><updated>2008-12-30T05:12:55.950+07:00</updated><title type='text'>PAGE 11</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Halaman pertama dibuka.  Dia melihat sketsa Satria tampak dari sisi samping.  Halaman selanjutnya dia buka.  Bibirnya terkatup rapat saat membaca tulisan ayahnya sewaktu masih seusia dirinya.  Satria dan ayahnya tidak sedekat Endita dan Satria.  Itu yang dia tangkap dari isi tulisan ayahnya.  Memang benar.  Ayahnya tidak sampai terobsesi menjadi majikan macan hitam sebab hal itu tak mudah.  Majikan macan hitam punya kekuatan yang sulit ditebak.  Lagipula pewaris macan hitam merupakan pribadi tertutup dan sulit dikenali.  Berbeda dengan pewaris macan putih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita tersenyum.  Jadi ini kelemahan majikan macan hitam?  Majikan macan hitam bisa saja ada di dekatnya tanpa disadari.  Posisinya terancam, itu pasti.  Dibukanya halaman berikut.  Satu halaman tergambar sketsa macan hitam.  Persis seperti yang sering dilihatnya.  Macan hitam berkarakter buas dan penurut pada majikannya.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Dia bernama Dewa.  Kekuatannya jauh di atas level macan putih.  Dalam legenda macan hitam dianggap sebagai raja segala macan.  Dahulu untuk menaklukkannya butuh waktu sangat lama.  Endita melewati sejarah tentang Dewa.  Dia butuh informasi lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Beberapa halaman berikut dia mendapati silsilah keluarga majikan macan hitam.  Seperti juga di halaman awal silsilah keluarganya tertulis dengan lengkap dan ada tanda melingkar yang manandakan mana si majikan tiap generasi.  Namanya tercantum di sana.  Tinggal menemukan nama majikan macan hitam saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita tak percaya apa yang dilihatnya.  Tak ada nama majikan terakhir macan hitam.  Hanya sampai generasi ayahnya saja.  Sial! Makinya dalam hati.  Apa maksudnya ini?  Apakah sengaja disembunyikan atau memang macan hitam masih di tangan pewaris lama?  Kenapa tidak ada yang baru?  Apakah pewaris lama tidak memiliki anak?  Itu sama sekali bukan alasan.  Pewaris lama bisa mencari orang yang dipercayainya meski hanya kerabat jauh.  Macan hitam harus punya majikan.  Kalau tidak bisa kacau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita menutup buku agenda ayahnya.  Berarti dia harus menyelidiki sendiri.  Nafasnya terhela panjang.  Majikan macan hitam memiliki pribadi tertutup dan kekuatan yang sulit ditebak.  Endita memijiti kepalanya.  Ternyata tak mudah untuk merebut macan hitam.  Darimana harus memulai?  Tangan kanannya terasa nyeri.  Dia meringis.  Luka tembak itu kini mengganggu kenyamanannya.  Harusnya Satria melindunginya dari ancaman bahaya seperti itu.  Pada kenyataannya Satria tak melakukan apa-apa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Noran bergegas menemui Ralvinza yang tengah berlatih beladiri dengan tongkat kayu di halaman belakang istana.  Dia tahu panguasa negeri itu tidak berkenan jika saat berlatih disela oleh siapa pun juga.  Tapi dia tak bisa menunggu.  Begitu sampai di halaman belakang dilihatnya Ralvinza tengah latihan bertarung dengan beberapa pengawal khusus yang menggunakan pedang.  Noran masih juga bergidik ngeri melihat pemandangan itu.  Takut sekali dia jika Ralvinza sampai cedera meski itu tak disengaja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Noran menghampiri Ralvinza.  Bandannya membungkuk.  “Yang Mulia, Pangeran Kinapati dalam perjalanan menuju kemari.  Sebaiknya Yang Mulia menyiapkan segala sesuatu dari sekarang.  Menurut kabar, Pangeran Kinapati juga datang hendak melamar Yang Mulia.  Jadi, saya rasa…”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menatap macan hitamnya yang duduk santai di bawah pohon.  Si macan membalas tatapannya.  Pandangannya beralih pada penasehatnya.  “Siapkan penyambutan rombongan Pangeran Kinapati dengan sebaik-baiknya, Noran.  Waktu latihanku masih ada sepuluh menit lagi.  Aku akan menyiapkan diri setelah itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-8365384996277467483?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/8365384996277467483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=8365384996277467483' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/8365384996277467483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/8365384996277467483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/12/page-11.html' title='PAGE 11'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-6921282229381717259</id><published>2008-12-19T05:25:00.001+07:00</published><updated>2008-12-19T05:25:38.652+07:00</updated><title type='text'>PAGE 10</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Odie kembali ke tempat duduknya.  Keringat dingin mengalir di wajahnya.  Dilihatnya lagi ke arah yang sama.  Macan itu sudah tak ada.  Hanya Ralvinza yang menatapnya heran.  Odie menutup mukanya.  Dia benar-benar ketakutan.  Apapun makhluk itu sudah membuat nafsunya padam begitu saja.  Dia sudah lupa niat kotornya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Di? Ada apa?” tanya Ralvinza.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie menggeleng.  Dia sama sekali tak takut dengan macan di kebun binatang.  Tapi macan yang barusan dilihatnya sungguh menakutkan.  Entah mengapa bisa ada di sana.  Menampakkan wujudnya tepat di belakang Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Di, bilang sesuatu.” Pinta Ralvinza yang ikut panik melihat perubahan drastis Odie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Aku lihat macan.  Ya, warna putih dan besar.  Dia melihatku, Vin.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menahan nafas.  Dia tak percaya Odie bisa melihat macan putih.  Orang awam tak mungkin bisa melihatnya.  Hanya majikan si macan yang bisa melihatnya.  Lagipula tadi dia tak merasakan apa-apa saat kemunculan macan putih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Sebaiknya kamu istirahat, Di.  Apa yang tadi kamu lihat cuma ilusi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie tak menjawab apa-apa.  Ilusi apa bukan sudah membuatnya seperti bermimpi buruk.  Dia membiarkan Ralvinza keluar dari mobil.  Tak lama kemudian dia tancap gas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza mendongakkan kepala ke puncak rumahnya.  Dahinya berkerut.  Macan putih berdiri dengan gagah di atas atap.  Menatapnya sebelum menghilang entah kemana.  Rupanya Odie memang melihat si macan putih.  Tapi untuk apa dia menunjukkan keberadaannya pada orang lain?  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza masuk ke dalam kamar.  Bersamaan dengan masuknya macan hitam yang menembus tembok dan menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki tuannya.  “Berjanjilah padaku untuk tidak ikut-ikutan memperlihatkan wujudmu pada siapa pun.  Aku tak suka itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Si macan hitam mengangguk-angguk.  Dia naik ke tempat tidur ketika Ralvinza mengganti baju.  Ekornya bergerak-gerak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menenggak air dingin yang diambil dari dalam kulkas.  Dia duduk di sisi tempat tidur.  Dibelainya kepala si macan hitam.  “Kamu melihatnya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Kepala si macan hitam mengangguk-angguk.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Siapa dia?” selidik Ralvinza.  Dia tahu si macan hitam tidak akan menjawab pertanyaannya.  Dia memang sedikit putus asa menemukan identitas majikan si macan putih.  Orang itu pasti pun kini mencarinya tapi sama-sama tak tahu memulai dari mana. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Di tempat berbeda Endita nampak sibuk membongkar isi laci di kamar ayahnya.  Isi laci itu kebanyakan kertas-kertas dan juga beberapa foto.  Endita menyingkirkan benda-benda itu sebab bukan itu yang membuatnya bersikeras terus mencari.  Saat ujung jemarinya menyentuh buku bersampul tebal senyumannya terukir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Buku itu bersampul biru laut.  Kertas di dalamnya nampak sudah menguning saking tuanya.  Di sini pasti ada jawabannya.  Di dalam buku agenda milik ayahnya.  Endita yakin ayahnya pasti menuliskan silsilah keluarga majikan si macan hitam di sana.  Dengan begitu ia akan mudah menyingkirkan majikan macan hitam sebelum hal itu terjadi padanya.  Dia ingin segera menjadi majikan keduanya.  Takkan ada yang dapat mengusiknya jika dua kekuatan ada di dalam genggaman tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita mengambil buku itu.  Dia kembali merapikan laci dan menutupnya lalu meninggalkan kamar sang ayah sama keadaannya seperti saat masuk tadi.  Endita membawa buku agenda sang ayah ke dalam kamar.  Dikuncinya pintu dan dia duduk di kursi kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-6921282229381717259?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/6921282229381717259/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=6921282229381717259' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/6921282229381717259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/6921282229381717259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/12/page-10.html' title='PAGE 10'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-7789640098094554992</id><published>2008-12-12T05:30:00.001+07:00</published><updated>2008-12-12T05:30:28.073+07:00</updated><title type='text'>PAGE 9</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ralvinza mengerutkan dahi.  Dia tadi datang ke lokasi tapi sama sekali tak mendengar soal korban yang terpaksa menyerahkan gaji karyawan sebesar 200 juta pada perampok.  Dia menatap Odie.  “Kamu dengar darimana?” tanyanya dan merasakan bulu kuduknya merinding.  Dia mengamati punggung-punggung mereka.  Dia antara 7 pria itu adalah majikan macan putih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ini menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;headline&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; beberapa surat kabar besok.  Tunggu saja kalau tak percaya.  Lihat wajahnya, Vin.  Dia tenang-tenang saja kehilangan uang sebesar itu.  Kalau aku sudah seperti kebakaran jenggot.  Uang gaji karyawan!  Fiuh!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza mengangguk.  Itu bukan jumlah sedikit.  Tapi memang Endita tentu takkan panik kehilangan 200 juta.  Toh asetnya pasti berlipat-lipat dari itu.  Anggap saja sedekah.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie mengawal kendaraan Ralvinza dari belakang.  Dia memaksa untuk mengantar sang kekasih pulang karena sudah menjelang dini hari.  Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing selama perjalanan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza memikirkan atmosfer aneh ketika berada di kafe tadi.  Dia ingin sekali membagi ceritanya, tapi suara dalam hatinya tak setuju jika dia bercerita pada Odie.  Siapa pun dia bukan berarti bisa menjaga sebuah rahasia besar yang telah tersimpan lama dalam keluarganya.  Atau bisa saja Odie justru meninggalkannya dan menganggapnya gila begitu mendengar si macan hitam.  Ralvinza tak mau mengambil resiko sebesar itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Andai saja dia bukan anak tunggal pasti bebannya bisa dibagi pada saudaranya.  Mereka pasti bisa memahami kegalauannya.  Dia tak perlu dipusingkan oleh mimpi yang terus berlanjut setiap kali dia terlelap.  Dia tak memikirkan apa yang harus dilakukan pada majikan macan putih.  Tapi Ralvinza tak menampik dia ingin menjadi tuan tunggal untuk kedua hewan magis itu.  Dia tak mau orang lain memerintah macannya.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Isi pikiran Odie terperangkap dalam keinginan sedikit nakal pada sang kekasih.  Jika mereka satu mobil tentu takkan sulit memberi alasan untuk berhenti di tepi jalan sepi dan merayunya.  Memulai mencium  bibir yang kerap menyunggingkan senyuman manis itu lalu memeluknya erat-erat.  Ralvinza takkan mungkin menolak.  Perempuan itu setia padanya.  Odie ingin lebih banyak mencicipi.  Dia tak mau menunggu lebih lama lagi sampai malam pertama mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Laju kedua kendaraan melambat begitu mendekati rumah Ralvinza.  Odie melihat kekasihnya turun dari mobil dan berjalan menuju mobilnya.  Odie menahan nafas.  Ini waktunya.  Dia menurunkan kaca sampai bawah.  Ralvinza menunduk dan menatap Odie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Thanks ya, Di.  Sori kalau ngerepotin.” Ucap Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie tersenyum.  “Aku mau bicara sebentar, Vin.  Masuk ke mobil bentar aja, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;please&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Tanpa curiga Ralvinza berjalan ke sisi kiri lalu masuk ke dalam mobil.  Odie melepas sabuk pengamannya.  Dia mengubah posisi duduk menghadap sang kekasih.  Dia terdiam sesaat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Aku sayang kamu, Vin.” Ucap Odie seraya mendekati Ralvinza yang nampak tenang di posisinya.  Ini lampu hijau untuknya.  Terlalu bodoh jika bertahun-tahun pacaran hanya begitu-begitu saja.  Apalagi sebentar lagi dia akan menikahi Ralvinza.  Sekarang atau setelah menikah toh sama saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Bibir Odie nyaris menyentuh bibir Ralvinza.  Tapi dia berhenti sampai di sana.  Wajahnya tiba-tiba memucat dan pandangannya terpaku keluar jendela di belakang sang kekasih.  Sebuah halusinasi hebat membuatnya tak mampu malanjutkan aksinya.  Dia menatap sesuatu yang menyeramkan di luar sana.  Menatap dengan buas dan seolah menyerangnya tanpa diduga.  Tak mungkin salah lihat.  Itu seekor macan dewasa berwarna putih seakan bersinar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-7789640098094554992?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/7789640098094554992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=7789640098094554992' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7789640098094554992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7789640098094554992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/12/page-9.html' title='PAGE 9'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-1320009226535041132</id><published>2008-12-05T05:31:00.000+07:00</published><updated>2008-12-05T05:39:25.158+07:00</updated><title type='text'>PAGE 8</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pandangannya sempat bertabrakan dengan Ralvinza yang sibuk melawan rasa merindingnya.  Dia melemparkan senyuman tipis sebelum berlalu.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Tidak.  Aku takkan tertipu lagi.  Bukan perempuan itu.  Macan putih tak pernah punya majikan perempuan dan dia tak mau diperintah seorang perempuan.  Lagipula tampangnya lebih cocok punya peliharaan kucing atau kelinci.  Aku ingin tahu mengapa ayah tidak mau membeberkan siapa majikan macan putih sekarang.  Padahal akan memudahkanku menyelidiki keberadaan komplotan perampok itu.  Jelas-jelas dia dalangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita masuk ke ruang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;private&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.  Tidak lama setelah dia masuk, pelayan datang mengantarkan pesanan.  Endita beranjak mengunci pintu setelah si pelayan meninggalkan ruangan.  Dia membuka jaketnya.  Seluruh teman-temannya menahan nafas melihat lengan Endita yang dibebat perban.  Ada noda darah yang membekas di kain perban itu.  Mereka meringis seakan memiliki luka tersebut.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Aku akan cari orang tu, Ta.  Biar aku habisin dia.” Kata salah satu temannya geram.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Kalimat serupa mengalir satu demi satu.  Luka itu memang di luar perhitungan.  Baru sekali ini Endita sampai terluka.  Untung masih bisa melarikan diri.  Bisa hancur semuanya jika sampai tercekal polisi.  Itu membuat Endita sadar jika Satria tidak akan selamanya bisa melindunginya.  Tak bisa selamanya mengandalkan Satria.  Tapi dia sangat percaya seluruh kekayaan keluarganya akan lenyap jika Satria direbut orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Wartawan belum merilis berita soal rekeningmu yang dikuras gara-gara perampokan tadi siang, Ta.  Padahal wartawan bayaran sudah kuminta memasukkan hasil investigasi palsu untuk dipasang sebagai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;headline&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.” Ujar teman Endita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Wartawan tahu kapan momen yang tepat.  Itu hanya masalah waktu.  Publik juga akan curiga nantinya.  Oke, kita mulai rancang strategi untuk lusa.  Dengarkan baik-baik.” Ucap Endita dingin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza akhirnya mengakhiri kesendiriannya di kafe.  Odie datang setelah hampir membatalkan rencana kencan mereka.  Dia tertahan di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu sebelum koran naik cetak.  Dengan tampang kusut dia duduk di sebelah kekasihnya.  Ralvinza memesankan minuman yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Enaknya kalau berendam air hangat.” Ujar Odie sambil meregangkan tangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza sependapat.  Dia sendiri merasa begitu lelah dan ingin cepat-cepat naik ke tempat tidur.  Jika bukan karena Odie memaksanya nongkrong di kafe ini pasti sekarang dia sudah mimpi indah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Odie merasa senang akhirnya dia bisa berduaan dengan Ralvinza selain di kantor.  Kalau tidak salah ingat sebulan lalu mereka menikmati suasana ini.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p face="courier new" style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Itu Endita Cahaya, kan?” pandangan Odie mengarah pada rombongan Endita dan teman-temannya yang baru saja meninggalkan ruang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;private&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: courier new; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza menolehkan kepala ke arah yang sama dengan pandangan Odie.  “Yang mana Endita?” tanyanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Paling depan.  Kumpulan anak-anak orang kaya.  Kabarnya, dia menjadi korban dalam perampokan itu.  Salah satu anak buahnya yang sedang mengambil gaji karyawan perusahaan terpaksa menyerahkan uang sejumlah 200 juta kepada perampok.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-1320009226535041132?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/1320009226535041132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=1320009226535041132' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/1320009226535041132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/1320009226535041132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/12/page-5.html' title='PAGE 8'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-1617766943381528490</id><published>2008-11-28T05:22:00.001+07:00</published><updated>2008-11-28T05:22:51.375+07:00</updated><title type='text'>PAGE 7</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Endita meneruskan perjalanan dengan kecepatan yang sama.  Santai saja dia menyetir karena memang dia berangkat lebih awal, takkan terlambat sampai di sana.  Pikirannya beralih pada bayangan hitam tadi yang diyakininya adalah saudara Satria, macan putihnya.  Menurut cerita ayahnya, Satria adalah pengawal setia yang akan menjaganya dari gangguan jahat.  Ayahnya semakin memperjelas bahwa pemilik macan hitam bukan orang sembarangan dan jangan pernah main-main dengannya.  Segala macam cerita ayahnya memang akhirnya menunjukkan bagaimana hebatnya si majikan macan hitam tapi tak membuat Endita perlu mengkhawatirkan sesuatu.  Dia pun punya kekuatan yang tak main-main.  Sampai saat ini belum pernah dilihatnya macan hitam mengeluarkan kekuatan di hadapannya.  Tentu ada alasannya.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Endita tahu dia hidup di jaman moderen.  Ayahnya pun begitu.  Tapi Satria adalah warisan yang harus dijaga.  Tidak bisa tidak.  Ini sudah takdir.  Turun-temurun sejak jaman generasi pertama hingga sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Teman-teman Endita menunggu di ruang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;private&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Total Art seraya menenggak minuman beralkohol.  Mereka ada sembilan orang, dua perempuan dan tujuh laki-laki.  Pertemuan mereka terjadi tiga kali seminggu.  Dalam ruangan kedap suara mereka punya sesuatu yang sangat rahasia mereka bicarakan.  Endita di tengah-tengah dan memberi instruksi.  Seperti itu biasanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Di tempat yang sama Ralvinza datang seorang diri dengan menggunakan motornya.  Tempat parkir motor masih banyak yang kosong.  Dia memilih sisi sebelah barat.  Ketika pandangannya mengedar dia melihat motor putih yang tadi melambunginya di jalan.  Terparkir di sisi sebelah timur.  Ralvinza menyipitkan mata memastikan itu motor yang sama.  Antara ragu dan tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ketika memasuki galeri dia merasa bulu kuduknya merinding.  Jadi benar dia ada di sini.  Pimpinan komplotan perampok kota yang sedang merajalela.  Dan si majikan macan putih.  Ralvinza ingin tahu orangnya.  Tapi akan sangat sulit mengenalinya di tempat seperti ini.  Di mana dia?  Pandangannya tertumbuk pada sosok pria yang tengah mengamati lukisan.  Lengan kanan pria itu dibalut perban.  Jangan-jangan itu karena luka tembak.  Jantungnya berdetak kencang.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza berdiri di samping pria itu.  Yah, kini dia berkeringat dingin.  Ini orangnya!  Si pembuat onar itu.  Tapi dia tak punya bukti apa-apa.  Untuk mengenali postur si pengendara motor tadi saja sulit apalagi mengenali wajah.  Dia mendehem.  “Lukisan realis ini sepertinya dibuat untuk memperlihatkan sebuah kesedihan mendalam.” Komentarnya seolah paham dengan lukisan di hadapannya.  Pria itu tak mengindahkannya lalu berjalan ke lukisan lain.  Aneh.  Dia tak merasakan bulu kuduk merinding lagi.  Kenapa tadi dia merasakannya begitu kuat?  Apakah jika benar-benar berdekatan justru tak bisa merasa apa-apa?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ralvinza belum menyerah sampai di sana.  Dia melontarkan kalimat pamungkasnya.  “Macan putih itu hewan yang luar biasa.” Pria itu menoleh kepadanya.  Memandangnya dengan heran.  Lukisan yang tengah mereka lihat sama sekali tidak memperlihatkan seekor macan.  Dari itu Ralvinza langsung tahu dia salah orang.  Dia berjalan menjauh.  Bukan dia.  Tapi dia di sini.  Aku yakin sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Dia berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan seniman internasional lalu memasuki bagian kafe.  Dia menempati meja bar dan memesan segelas kopi Italia.  Di sini bulu kuduknya masih merinding.  Entah kenapa perasaan itu kembali menguat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Mas, pesen &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;tequilla&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; satu buat di room 1, ya.” Ujar Endita pada pelayan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-1617766943381528490?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/1617766943381528490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=1617766943381528490' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/1617766943381528490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/1617766943381528490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/11/page-7.html' title='PAGE 7'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-2994255039025419779</id><published>2008-11-21T06:09:00.001+07:00</published><updated>2008-11-21T06:09:38.369+07:00</updated><title type='text'>PAGE 6</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Seorang pria gemuk berjas bergegas menyeberangi ruang tengah untuk menjawab telfon yang tak putus-putus berdering sejak tadi.  Dia sepertinya tahu siapa yang memanggil dari seberang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    “Beno, siapkan mobil.  Aku mau keluar sebentar.” Ucap si penelfon dengan datar.  Itu majikannya, Endita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    “Siap, Non.  Makan malamnya sudah selesai, Non?  Biar saya bereskan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    “Sudah.  Oya, kamu ga usah ikut.  Aku mau keluar sendiri.” Tambah Endita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Beno terperanjat.  Dia tidak mau membiarkan majikannya keluar rumah sendirian.  Penduduk di kota ini tahu kalau Endita Cahaya putri seorang milyuner.  Berbahaya jika keluar sendiri tanpa kawalan siapa-siapa.  “Jangan, Non.  Ini sudah malam.  Biar saya temani ya, Non.  Kalau ada apa-apa saya…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Endita memotong, “Papi ga akan tahu kalau kamu ga ngomong apa-apa.” Pembicaraan telfon internal diakhiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Beno tak berani mendebat.  Ayah majikannya tinggal di luar negeri dan takkan tahu kemana saja putrinya pergi.  Hubungan Endita dan ayahnya sangat dekat.  Mereka berdua selalu berbagi cerita lewat teleconfrence.  Saling melihat wajah dan mendengar suara.  Tak ada batasan jarak.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Endita menuruni tangga seraya mengikuti irama lagu dari Ipod.  Dia mengenakan busana santai serba denim kecuali jaket.  Rambutnya dibiarkan terurai menutupi bagian telinga.  Dari jauh wangi parfumnya tercium Beno.  Malam itu Endita tak terlihat sebagai anak orang kaya.  Tapi wajahnya yang mulus terawat jelas menggambarkan dari kalangan mana dia berasal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Beno membukakan pintu mobil untuk majikannya.  Di dalam genggaman tangannya ada kunci mobil Merci model terbaru.  Endita mengikutinya dari belakang.  Dia tidak perlu membuka pintu mobil dan juga pintu pagar.  Beno yang melakukan itu semua untuknya.  Mesin mobil pun dinyalakan Beno.  Baru setelah pintu mobil ditutup barulah Endita harus melakukan segalanya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Endita janjian dengan teman-temannya di kafe Total Art yang juga difungsikan sebagai galeri lukisan.  Kafe itu sebagian besar sahamnya dimiliki Endita, sisanya dipegang temannya.  Dia ke sana bukan sekedar menikmati malam tapi ada urusan penting yang perlu dibicarakan dengan teman-teman satu gengnya.  Geng anak konglomerat.  Dia ketua geng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Endita menghela nafas panjang.  Ketika mobilnya membelah malam dia termenung memikirkan kehidupan kelas atas yang terkadang terasa membosankan.  Dunianya terbatas hanya untuk orang-orang tertentu.  Memiliki teman yang tak lain anak dari teman-teman ayahnya.  Pertemanan yang diwariskan.  Tak menambah teman di luar lingkaran itu.  Satu sisi dia takut menjadi korban pemerasan orang asing yang masuk dalam kehidupannya, tapi di satu sisi dia penasaran bagaimanan rasanya kehidupan di luar sana.  Leluasa masuk ke tempat-tempat umum selain kafe atau restoran kelas atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;    Ketika setengah tenggelam dengan angan-angan, sebuah bayangan hitam tiba-tiba melintas di depan mobil.  Endita menginjak rem hingga roda mobilnya mengeluarkan bunyi mendecit panjang.  Bayangan itu begitu cepat berkelebat lalu menghilang di pepohonan.  Lagi-lagi macan hitam, batinnya.  Apa maunya?  Kenapa selalu menampakkan diri padaku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-2994255039025419779?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/2994255039025419779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=2994255039025419779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/2994255039025419779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/2994255039025419779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/11/page-6.html' title='PAGE 6'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-7062174207484176018</id><published>2008-11-14T05:13:00.001+07:00</published><updated>2008-11-14T05:13:56.319+07:00</updated><title type='text'>page 5</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Odie yang bekerja sebagai editor di tempat yang sama menghela nafas.  Mereka berdua sama-sama sibuk.  Jatah cuti mereka pun sudah habis.  Dia menatap mata kekasihnya dalam-dalam.  Sudah empat tahun dia memacari Ralvinza.  Hubungan yang mulus dan tak pernah ada ribut-ribut atau masalah besar.  Semuanya berjalan lurus-lurus saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Aku sayang kamu, Vin.  Pingin banget seharian bersama kamu.  Selama ini kita sama-sama sibuk bekerja.  Ga pernah punya waktu pacaran.” Keluh Odie.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Ini juga lagi pacaran.  Kamu maunya kayak gimana?  Jalan-jalan trus nonton? Atau makan bareng di restoran gitu?” Ledek Ralvinza tapi justru dibenarkan Odie.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sebenarnya lebih dari itu.  Dia ingin memiliki dan mencicipi tubuh kekasihnya yang kalem dan berwajah manis.  Sebagai pria normal Odie kerap merasakan dorongan gairahnya ketika berhadapan dengan pacar.  Ditahannya selama masa mereka berpacaran.  Mencium bibir Ralvinza belum pernah kesampaian.  Apalagi menjamah berlekuk-lekuk tubuh penuh misteri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Akhir-akhir ini aku merasa sesuatu.” Ungkap Ralvinza seraya merenung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Aku juga.” Sambung Odie cepat.  Yah dia merasa kebutuhan batinnya semakin sulit ditahan lagi.  Dipikirnya itu yang hendak dikatakan Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Bulu kudukku sering merinding dan membuatku takut.” Ralvinza menelan ludah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Odie mengerutkan kening.  “Merinding karena apa?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza tak bisa mengungkap penyebabnya.  Meski lama mengenal Odie, dia belum pernah menceritakan sesuatu yang selama ini dirahasiakannya lagipula Odie pasti takkan percaya.  Juga seputar mimpinya sebagai ratu yang resah.  Ini rahasia yang hanya boleh diketahui oleh kalangan keluarga.  Begitu pesan ayahnya dan terus dipegangnya baik-baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Vin, jangan jadi sosok misterius di hadapanku.  Aku ini calon suamimu.” Ujar Odie berusaha meyakinkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza tetap ingin memegang janji.  Dia takut Odie akan terseret masuk dan semakin membuatnya sulit menemukan si pemilik macan putih.  Pasti bukan tanpa alasan ayahnya menyebut-nyebut soal macan putih dan tak menyebut identitas tuannya.  Dia harus mencari sendiri.  Ayahnya pernah mengatakan jika tuan kedua macan menjadi satu, maka akan menjadi satu kekuatan yang tak tersaingi manusia lain.  Ralvinza tidak memahami apakah maknanya.  Kalimat itu memang ambigu.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Vin, mikirin apa sih?” sentuhan tangan Odie di rambutnya mengagetkan Ralvinza.  Sepertinya lamunannya terlalu panjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Aku mikirin dimana kita tinggal setelah menikah, Di.” Jawab Ralvinza sekenanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Odie tersenyum nakal.  “Dimana saja.  Yang penting kita sekamar.” Jawabnya seraya memegang dagu runcing sang kekasih.  Dia melirik jam dinding kantin yang menunjuk pukul satu lewat  “Kita balik kerja, yuk!  Tunggu di sini, aku bayar dulu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza mengamati perawakan Odie yang tegap.  Berjalan layaknya pria tangguh melewati meja demi meja.  Pria itu tidak tertarik berpaling pada perempuan lain yang lebih cantik maupun lebih muda.  Pilihannya jatuh pada Ralvinza.  Ralvinza tahu Odie bukan si pemilik macan putih meski dia berharap seperti itu.  Di dekat Odie dia tak pernah merinding begitu hebat.  Instingnya tajam dan yakin sekali jika si pengendara motor putih itulah tuan si macan putih.  Dia merasakan energi yang amat besar dan menyamai kekuatannya sendiri.  Andai dia bisa melihat wajah di balik helm besar itu pastilah akan lebih baik.  Berarti dia tak perlu mencari sampai ke ujung dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Yuk!” Odie menggandeng tangan Ralvinza.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Mereka berdua bergandengan tangan meninggalkan kantin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-7062174207484176018?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/7062174207484176018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=7062174207484176018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7062174207484176018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7062174207484176018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/11/page-5.html' title='page 5'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-764769319905563985</id><published>2008-11-07T05:29:00.001+07:00</published><updated>2008-11-07T05:29:43.839+07:00</updated><title type='text'>PAGE 4</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Hari Senin pagi Ralvinza masuk kantor.  Dia siap diterjunkan meliput berita perampokan di sebuah bank swasta.  Dia segera meluncur ke lokasi dengan mengendarai sepeda motor yang lebih mudah mencapai lokasi.  Dengan gesit dia menyalip kendaraan roda empat yang terjebak kemacetan.  Dia tidak boleh sampai tertinggal meliput berita meskipun berita kriminal serupa hampir tiap 2 minggu terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Saat memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sebuah motor menyalip dengan mudah di jalan yang sepi.  Ralvinza terkejut dan mengerem mendadak.  Gila, serunya dalam hati.  Kecepatannya tadi saja hampir 100KM/jam.  Lalu berapa kecepatan motor itu?  Motor &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;sport&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; putih yang melesat jauh meninggalkannya.  Bulu kuduknya berdiri.  Ini seperti sinyal tanda bahaya baginya.  Terjadi begitu saja dan selalu terjadi jika pemilik macan putih berada di sekitarnya.  Dia menarik nafas dalam-dalam.  Mengapa itu dirasakannya?  Apakah si pengendara motor tadi penyebabnya?  Dia melihat ke sekeliling dan tak ada orang lain di sana.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sesampainya di lokasi kejadian polisi sudah memasang garis kuning.  Ralvinza melihat di salah satu pintu bank ada lubang seperti tertembus peluru serta ceceran darah.  Wartawan sudah banyak yang datang dan memotret tempat itu.  Ralvinza mencari informasi pada petugas kepolisian dan mengetahui bahwa komplotan penjahat berhasil melarikan diri dan membawa uang ratusan juta rupiah.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Dia kabur naik motor putih.” Ungkap salah satu saksi mata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Entah mengapa Ralvinza langsung mengarahkan tuduhannya pada pengendara sepeda motor tadi.  Mungkin saja dia memang anggota komplotan ini.  Tidak sulit melarikan diri dengan motor yang melaju dengan kecepatan maksimal.  Tapi mengapa motor itu datang searah dengannya bukan berlawanan arah?  Aneh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Tiga orang menjadi korban luka tembak.  Ketiganya adalah pegawai bank yang mencoba melawan kedua perampok bersenjata api.  Mereka akhirnya dilumpuhkan dengan tembakan di kaki.  Begitu penjelasan petugas kepolisian yang direkamnya dengan media HP.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Lalu lubang peluru di kaca itu?” Ralvinza menunjuk lubang menganga dan ceceran darah yang mengering.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Ditembakkan oleh salah satu polisi preman ke salah satu dari perampok.  Menurut saksi mengenai bagian lengan tapi mereka berdua tetap berhasil meloloskan diri.” Dengan kecepatan penuh, batin Ralvinza.  Hebat sekali.  Tentu itu bukan hal yang mustahil.  Dia bukan orang biasa.  Peluru bukanlah benda yang dapat membunuh majikan macan putih.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  Berita tentang perampokan sontak membuat seluruh stasiun televisi menayangkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;breaking news&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; setiap satu jam sekali untuk memantau perkembangan yang ada.  Pemerintah menyesalkan kurang ketatnya sistem keamanan di sekitar bank.  Korban luka-luka belum bisa diajak berbicara dan masih ditangani intensif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Di kantor Ralvinza, orang-orang tidak mau ketinggalan berita.  Meski sudah jam makan siang tetap saja mereka heboh membicarakannya.  Berbeda dengan Ralvinza, dia justru memilih makan siang di kantin bersama Odie, pacarnya.  Mereka terlihat menikmati es campur setelah melahap nasi rames.  Melupakan sejenak kesibukan di kantor.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Kita bisa sama-sama menentukan hari baik setelah acara lamaran.  Kita tidak akan terlalu lama mempersiapkan segalanya, kan?” Odie menyentuh punggung tangan Ralvinza seraya menunggu jawaban.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza menganggukkan kepala.  “Ya, pasti.  Sekarang, besok atau dua bulan lagi sama saja.  Aku tak punya target waktu.  Yang penting hubungan kita diresmikan.  Tapi soal bulan madu kita tak bisa terlalu ngotot. ” Ralvinza tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-764769319905563985?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/764769319905563985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=764769319905563985' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/764769319905563985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/764769319905563985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/11/page-4.html' title='PAGE 4'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-7614924354820710111</id><published>2008-10-31T08:17:00.001+07:00</published><updated>2008-10-31T08:17:52.784+07:00</updated><title type='text'>PAGE 3</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ralvinza menaikkan alis.  Jelas penafsiran kali ini cukup mempengaruhinya.  Dia pernah mendengar legenda macan putih dari kedua orangtuanya.  Sepertinya bukan isapan jempol semata.  Konon macan putih memiliki tuan yang sanggup membuat semua orang tunduk patuh padanya.  Ralvinza tak pernah diceritakan lebih lanjut tentang tuan si macan putih.  Bulu kuduknya merinding tanpa sebab.  Dia sendiri majikan macan hitam tapi tak banyak tahu nasib si macan putih.  Tapi…saudara kembar?  Lelucon apa ini?  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sepeninggal orang sakti ketiga, Ralvinza meminta Noran menyuruh pulang orang sakti keempat dan lainnya, tentunya setelah masing-masing menerima sekantong uang.  Dia mengurungkan niat mendengar lebih banyak kerancuan lain.  Setelah itu dia berbicara empat mata dengan sang penasehat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Apakah ‘penjagaku’ juga akan tunduk pada macan putih?  Bukankah dia hanya akan tunduk pada satu orang saja?  Aku merasa khawatir setiap kali orang mulai menyebut-nyebutnya.  Seharusnya orangtuaku tidak menyembunyikan sesuatu dariku.  Ini sangat penting.  Aku sama sekali tidak terpengaruh pada kata-kata paranormal yang terakhir, tapi setiap kali dikaitkan dengan macan hitam aku akan mendengarkan.  Macan putih itu bukan hanya dongeng, kan?  Bagaimana menurutmu, Noran?  Apa kamu tahu sesuatu?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Noran menundukkan kepala.  Jika macan hitam yang berkekuatan magis ada, maka macan putih pun ada.  Tidak di sini.  Bukan milik ratunya, tapi milik orang lain.  Dia tahu tapi ada saatnya nanti baru memberitahu.  Macan hitam milik Ratu Ralvinza jelas yang terkuat.  Dia pelindung yang sangat setia.  Belum ada yang bisa menyentuh bahkan melukai sang ratu karena macan hitamnya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza terus-menerus memikirkan keberadaan macan putih sekaligus majikannya. Siapa dan dimana sekarang?  Saat terlelap dan terjaga hanya itu saja yang menggelantung dalam benaknya.  Macan hitam adalah warisan turun-temurun sejak jaman nenek moyangnya penguasa negeri ini.  Dia terbiasa melihat sang macan hitam menampakkan wujudnya kapan saja dia mau atau kapan saja Ralvinza memanggilnya.  Sekejap dia datang dan dalan sekejap dia bisa menghilang.  Macan yang terlihat buas tapi sejak awal tak pernah melukainya, lebih tepatnya tak mungkin bisa melukainya.  Ralvinza memiliki kekuatan yang tingkatnya jauh di atas macan hitam.  Jika orang lain yang terkena sedikit saja goresan ujung cakar si macan hitam bisa menjerit kesakitan,  tidak begitu dengannya.  Jika dia tengah bercengkrama dengan makhluk itu dan suatu ketika si macan hitam berdiri dengan kedua kali belakang lalu kedua kaki depannya berada di pundak Ralvinza, sekalipun macan besar dan memiliki massa ratusan kilogram bukan sesuatu yang patut dikawatirkan.  Ralvinza baik-baik saja.  Pundaknya sama sekali tak cedera.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Angin bertiup kencang menerpa tubuh Ralvinza yang tengah duduk bersila di atas batu pipih.  Kedua matanya terbuka.  Di hadapannya terhampar pemandangan kota yang amat jauh.  Sejenak dia meninggalkan kesibukannya sebagai seorang jurnalis sebuah harian ibukota.  Di sini dia mencari jati diri.  Tak ada orang yang sudi naik ke puncak gunung ini karena takkan kembali dengan selamat.  Sudah ratusan orang hilang di gunung ini.  Tapi Ralvinza berkali-kali kemari sesuka hatinya.  Dia membawa peralatan berkemah lalu mendaki gunung sendirian.  Jika malam dia melihat kelebat macan hitamnya yang setia menjaga jika terjadi apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-7614924354820710111?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/7614924354820710111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=7614924354820710111' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7614924354820710111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7614924354820710111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/10/page-3.html' title='PAGE 3'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-7907034596413142237</id><published>2008-09-24T08:09:00.001+07:00</published><updated>2008-09-24T08:09:41.494+07:00</updated><title type='text'>PAGE 2</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ratu Ralvinza duduk di salah satu singgasana dan dikelilingi para abdi setia.  Singgasana satu lagi masih kosong.  Ralvinza selalu bertanya-tanya siapa orang yang seharusnya duduk di sana.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza mencoba bertanya pada penasehat negeri, tapi tak ada jawaban yang memuaskan hati.  Dia tak lagi mau menyerah begitu saja.  Diperintahkannya untuk mengumpulkan semua paranormal dan menjanjikan imbalan besar untuk sebuah jawaban pasti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka berkumpullah ratusan orang-orang sakti.  Mereka bersimpuh di hadapan sang ratu dan mencoba memberinya titik terang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Orang sakti pertama menyatakan, “Orang yang duduk di singgasana itu tak lain pasangan hidup Yang Mulia.  Dia adalah putra mahkota kerajaan Saputra Dasa Mulia di seberang lautan.  Kini sang pangeran sedang mencari permaisuri untuk melamar Yang Mulia.”  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza tidak puas dengan jawaban tersebut.  Mengapa semudah itu jawabannya?  Terlalu sederhana, pikirnya.  Meski begitu dia tetap memberikan upah sepantasnya atas usaha si sakti pertama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Lalu dipanggil orang sakti kedua.  Aroma kemenyan sontak tercium seiring dengan kedatangannya di hadapan sang penguasa negeri.  Ralvinza menahan dirinya untuk tidak menutup hidung saat seorang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam dan wajah menakutkan datang seraya menundukkan badan.  Matanya yang tajam menatap tanpa berkedip.  Tak lama kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Yang mulia akan mendapatkan hadiah luar biasa.  Seorang anak laki-laki yang tampan.” Ucapnya tanpa basa-basi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza mengerutkan dahi.  Dia tak habis pikir bagaimana orang sakti kedua itu bisa berkata sebegitu aneh.  Menikah saja belum bagaimana bisa memiliki keturunan?  Lalu apa hubungannya dengan kursi singgasana yang masih kosong?  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Kursi itu akan tetap kosong, Yang Mulia.” Lanjutnya seolah jalan pikirannya sama dengan Ralvinza.  “Yang Mulia adalah penguasa tunggal di negeri ini.  Jika kursi itu terisi maka negeri ini akan guncang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza menatap Noran, penasehatnya, yang hanya mengangkat bahu.  Baru dua orang yang mengungkapkan hasil terawang tapi sama-sama berbeda.  Ini membuatnya yakin orang sakti selanjutnya akan berkata lain lagi.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Orang sakti kedua berlalu sambil mengantongi uang dari Noran.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ralvinza menyiapkan kupingnya lebar-lebar untuk orang sakti ketiga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 100%; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Yang Mulia,” ujar seorang pria yang tidak tampak seperti orang sakti.  Dia berpakaian rapi dan usianya masih sangat muda.  Mukanya bersih dan potongan rambut rapi.  Ralvinza juga tak menanyakan namanya.  Dia hanya butuh penerawangan, bukan kenalan paranormal.  “Saya melihat singgasana itu kelak merupakan tempat untuk saudara kembar Yang Mulia.  Dia berada di suatu negeri.  Kekuasaannya jauh lebih besar dari Yang Mulia.  Dia memiliki ‘penjaga’ yaitu seekor macan putih yang tak terkalahkan.  Jika dia duduk di sana,” seraya menunjuk singgasana yang kosong, “Maka Yang Mulia akan tunduk padanya.”&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-7907034596413142237?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/7907034596413142237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=7907034596413142237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7907034596413142237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/7907034596413142237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/09/page-2.html' title='PAGE 2'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3035330418533429634.post-8473049042098505342</id><published>2008-09-18T05:16:00.000+07:00</published><updated>2008-09-18T05:17:20.914+07:00</updated><title type='text'>PAGE 1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Perdamaian menjadi sebuah impian sulit tergapai.  Ketika itu orang-orang mulai telah kehilangan rasa belas kasihan.  Kejahatan menjadi isi dari isi setiap surat kabar yang terbit setiap hari.  Para kriminal semakin tak terkendali.  Kepolisian kewalahan menangani begitu banyaknya korban perampokan yang kejam.  Semua orang saling mencurigai.  Tak ada lagi keramahtamahan yang menjadi penyambung antar manusia.&lt;/i&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;*&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt; Seorang pertapa memilih menghabiskan waktu menjauhkan diri dari kecemasan yang tak pernah berujung demi menemukan jawaban atas mimpi-mimpi samar yang selama ini menghantui tidur malamnya.  Tak ada yang mencarinya atau merasa kehilangan dirinya.  Dia adalah Ralvinza.  Perempuan muda yang jenuh dengan sikap orang-orang di sekitarnya. &lt;br/&gt;  Setiap malam dia bermimpi tentang negeri yang penuh dengan perdamaian.  Negeri itu dijaga seekor macan hitam yang tak kasat mata di dalam sebuah istana besar dan megah.  Tuannya begitu sakti dan sanggup mengendalikannya, hewan terkuat di negeri itu.  Raja seluruh hewan, bahkan rajanya para singa. &lt;br/&gt;&lt;/div&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3035330418533429634-8473049042098505342?l=author-ina-ralv.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/feeds/8473049042098505342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3035330418533429634&amp;postID=8473049042098505342' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/8473049042098505342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3035330418533429634/posts/default/8473049042098505342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-ralv.blogspot.com/2008/09/page-1.html' title='PAGE 1'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
