Saturday, February 14, 2009

PAGE 18

Pintu dibuka bersamaan oleh dua pengawal. Ralvinza berjalan seorang diri tanpa kawalan apa-apa. Itu membuat Pangeran Kinapati tidak menyadari bahwa orang yang ingin ditemuinya telah ada di hadapan. Dia duduk di kursi utama yang bentuknya sama dengan kursi-kursi lain. Para menteri serentak membungkukkan badan. Sang pangeran hanya melongo dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepala.

Ratu Ralvinza berbeda dari ratu-ratu lain yang pernah ditemuinya. Tidak menampakkan jika dia memiliki status jauh lebih tinggi dari para menteri. Di kepalanya tidak ada mahkota seperti biasa dikenakan para pemimpin kerajaan. Ditambah lagi dengan tidak adanya pengawal yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.

Meja jamuan kini telah lengkap terisi. Noran duduk paling dekat dengan sang ratu. Di bawah meja dia tahu macan hitam duduk dekat kakinya. Ralvinza memberi sedikit pidato penyambutan selamat datang pada Pangeran Kinapati dan rombongannya. Tak begitu formal. Padahal sang pangeran ingin diperlakukan jauh lebih istimewa.

Acara makan malam bersama pun dimulai. Ralvinza berbisik pada Noran, “Besok aku mau pergi berburu.” Dia menambah kuah sup ke dalam mangkuknya.

“Bersama Dewa?” tanya Noran tak kalah berbisik seraya mencondongkan tubuhnya. Di hadapannya duduk Menteri Pertahanan. Di sebelah kanannya ada Kepala Pengawal Khusus.

“Dewa? Siapa Dewa?” tanya Ralvinza seraya menambahkan garam ke dalam kuah sup. Dia melirik sekilas ke arah Pangeran Kinapati yang menatapnya tanpa berkedip.

“Macan hitam, Yang Mulia.” Jawab si penasehat. “Lebih baik macan hitam punya nama.” Usulnya kemudian.

Ralvinza setuju saja dengan nama itu.

“Pangeran itu diajak, Yang Mulia?” tanya Noran ingin tahu.

“Terserah dia mau ikut atau tidak. Sepertinya kamu kurang menyukainya.” Tebak Ralvinza.

Noran tidak menyangkal. Dia berharap bukan laki-laki itu yang berhasil menikahi sang ratu. Sikapnya sama sekali bertolak belakang dan sangat angkuh. Pangeran Kinapati pasti akan jadi raja yang amat menyebalkan.

“Sudah lama Dewa tak masuk hutan. Dia nampak kurang bersemangat.”

Noran sependapat. Dewa memang perlu lebih sering masuk hutan merayakan kebebasan sesaat sebelum masuk kembali ke area istana. “Saya akan siapkan segalanya malam ini, Yang Mulia. Besok pagi-pagi kita berangkat.”

Dokter Wawan membuka perban yang menutupi luka Endita. Sedikit darah mengalir dan menetes ke lantai. Cepat-cepat dicelupkannya kapas lalu diletakkan pada luka itu. Endita mengerang panjang menahan sakit. Luar biasa sakitnya meskipun itu bukan luka baru. Satria iba melihat majikannya kesakitan.

“Kenapa tidak langsung dibawa kemari, Dita? Kalau infeksi bisa fatal akibatnya.” Ujar dokter Wawan. Dia membersihkan luka lalu membuang kapas ke mangkuk kecil. Hanya dalam sekejap kapas berubah warna jadi merah. dia mengambil kapas baru lalu melakukan hal yang sama untuk kedua kali. Endita menahan nafas seraya menggigit bibir. Ia ingin berteriak tapi takut Beno yang menunggu di luar mendengar.

Dokter Wawan memperhatikan lubang yang menganga lebih dekat seraya menyenteri. Dia mengambil pinset. Endita menarik tangannya dengan panik. “Jangan, Dok. Sudah cukup. Jangan sentuh. Tolong.” Pintanya ketakutan.

0 comments: