RALVINZA

Friday, March 20, 2009

PAGE 23

Ralvinza terjaga dari tidur. Tubuhnya berkeringat hebat. Mimpi yang barusan dialaminya berbeda dari mimpi-mimpi sebelumnya. Seperti sebuah petunjuk sekaligus memberinya harapan baru. Tangan Ralvinza menyentuh secarik kertas yang tergeletak di bawah bantalnya. Setelah membaca tulisan di kertas itu dahinya berkerut. Jadi aku belum benar-benar bertemu Endita. Jadi itu hanya mimpi.

Endita tiba-tiba membatalkan pertemuan mereka dan berjanji akan bertemu besok hari di waktu dan tempat yang sama. Setelah itu Ralvinza memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidur karena matanya terasa sudah begitu berat. Dan kertas catatan itu diselipkan ke bawah bantal. Jadi belum tentu Endita benar-benar majikan macan putih atau Satria.

Ralvinza ingin teriak sekencang-kencangnya. Semakin lama semakin sulit membedakan mana yang nyata dan bukan. Salah langkah sedikit dia bisa melukai orang yang salah. Dalam mimpi itu dia akhirnya tahu satu solusi melindungi dirinya dari majikan Satria. Tapi pasti musuh besarnya juga punya tipu daya yang tak kalah hebat. Ini yang harus diwaspadainya. Dan dia amat takut jika majikan Satria bisa melakukan satu hal yang sangat licik.

Ralvinza memanggil Dewa lewat bahasa batinnya. Dalam sekejap mata macan hitamnya muncul di hadapannya. Ekornya bergoyang-goyang. Kemari, Dewa. Panggilnya dengan batin. Macan hitam itu mendekatkan tubuhnya pada Ralvinza. Dia merasakan jika hati sang majikan sedang gundah gulana bahkan saat menyentuh kepalanya perasaan itu semakin dirasakan. Dewa tak tahu mengapa majikannya merasa tak tenang. Padahal dia selalu siap melindungi sang majikan kapan dan dimana saja. Tak peduli siapa yang akan dihadapi.

Ralvinza mencium kepala Dewa. Aku tidak apa-apa, Dewa. Jangan khawatir. Apa yang kurasakan sekarang persis sama dengan apa yang dirasakan majikan macan putih. Cepat atau lambat kami akan bertemu. Saat itu kamu dan Satria tak bisa berbuat apa-apa. Kamu takkan mungkin melukai majikan Satria dan begitu pula Satria takkan sanggup melukaiku. Tinggal aku dan majikan Satria yang akan berhadapan. Entah siapa yang akan menang. Tapi aku tidak rela membiarkanmu jatuh ke tangan orang lain. Sampai titik darah terakhir kamu akan kuperjuangkan.



Rahardi menyempatkan diri berjalan-jalan mengelilingi kompleks seraya menghirup udara pagi yang segar. Dia berpapasan dengan para tetangga yang juga melakukan aktivitas serupa. Di usianya yang semakin lanjut Rahardi tidak lagi terobsesi mengejar mimpi-mimpi yang terlalu tinggi. Dia menikmati hidupnya yang aman di samping putrinya. Sebentar lagi Ralvinza akan mengikat hubungan dengan Odie. Semoga saja Odie tidak membawanya keluar dari rumah. Hatinya akan sangat sedih.

Dia melewati taman di tengah-tengah kompleks. Diputuskannya untuk duduk di salah satu bangku yang kosong. Dia menarik nafas dalam-dalam. Jika teringat putri satu-satunya, Rahardi ingin kembali ke masa lalu ketika Ralvinza masih kecil. Bocah periang dan senang memanjat pohon tetangga. Gadis cilik bermata cerdas dan berpipi kemerahan. Cantik sekali.

Dia selalu menyempatkan waktu menemani Ralvinza bermain di taman ini. Putrinya yang lincah berlari ke sana ke mari. Melompat dan tertawa renyah. Rahardi tak pernah lepas mengawasi Ralvinza. Menurutnya, putri kecilnya itu butuh pelindung, yatiu dirinya. Tapi dia lama-kelamaan menyadari Dewa tanpa disuruh ikut melindungi Ralvinza.